Rabu, 10 Juni 2015

PEMBERANG YANG PENYAYANG




Juni, 10 2015
Pagi ini tak seperti biasanya…udara yang menyelimuti pekanbaru kini berubah menjadi kabut asap tebal,, aku kira itu adalah lapisan embun. Ternyata dugaan ku salah,,,entah apa lagi yang salah dengan kota tinggalku,,selalu terkenal dengan asapnya.
Beginilah cuaca yang selalu kami jalani,,,tanpa diminta tanpa dinanti cuaca bisa saja dengan mudahnya silih berganti,, kemarin ku temukan pagi dengan temaran hujan yang deras,, hari ini beda lagi yang ku temukan. Tak ku temukan hujan namun hanya ku temukan asap gelap yang membumbung tinggi menyisahkan udara sisa pembakaran,, memaksaku membawa masker kemana-mana ketika ku beranjak keluar dari rumah..
Mungkin asap kota pekanbaru tak cocok di paru-paruku, buktinya sampai saat ini nafas yang ku hembuskan tak kunjung lancar,,aku harus menarik nafas dengan sekuat-kuatnya, beginilah nasib seorang pengidap sesak.

Masih di aktivitas yang sama,, setiap pagi bangun pagi,dirikan tahajud, mengaji Al-Quran serta tak lupa selalu kuhidupkan muratal untuk menemani aktivitas ku yang lain. Ini adalah hari ke -10 adek kecilku berada di kost ku,,,,,seperti biasa aku harus menjadi ojeknya yang harus menemaninya dan mengantarnya meskipun cuaca asap diluar terpaksa memaksaku untuk menahan sesak didadaku.

Aku sudah siap dari jam 08.00, namun sikecil berbeda belum juga siap-siap. Pakaian nya masih pakaian orang rumah berbeda pula denganku yang sudah siap untuk segera bergegas. Jilbabku pun sudah matching dengan warna rok yang ku kenakan,,,hari ini tema yang ku kenakan adalah warna ungu. Biarlah tema ungu yang kukenakan pikirku sambil meringgis kecil JJ

Dek,,,cepat lah kok belum siap-siap juga sih,,,, yang punya urusan siapa?? Kok malah kamu yang lambat kerjanya ,,,amukku pada adikku !!
“ iya loh kak,,,sahutnya dengan memajukan sedikit bibirnya. Mungkin ia kesal pagi-pagi buta sudah dapat sarapan  omelan dariku.
Tanpa ada kabel yang menghubungkan,, langsung saja kakak sekamar ku menyambung pembicaraanku.
“ jangan marah-marah toh dek,,kasian adeknya dimarahi terus!!”
“ ya giman kak lambat kali kerja adek saya itu,,,jawabku dengan ketus menahan amarahku pagi ini.

Sempat terpikir kepadaku,,, aku lelah jika harus marah-marah terus, lama-lama kerutan diwajahku semakin banyak. Wajahku saja sudah terkesan tua ditambah lagi aku harus marah-marah setiap paginya,,,,ampun ya Allah lelah… LL

Inilah yang membuatku terkenal sebagai seorang yang pemberang mudah sekali marah. Terutama jika melihat kerja yang lambat. Sikecil adikku memang berbeda denganku,, jika aku dikenal dengan cekatannya, maka adikku dikenal dengan lambatnya. Ia tipe orang yang santai. Mungkin ini yang membuatku selalu marah kepadanya.. seperti pagi ini seharusnya ia yang siap terlebih dahulu untuk pergi namun sebaliknya,,,aku yang harus menunggunya.

Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya aku mengomel. Omelanku terus berbuntut tetapi perubahan sikap dari sikecil juga tidak berubah. Tidak ada inisiatif sikecil untuk membuatku sehari saja tidak meluapkan marahku..astagfirullah  ucapku dalam hati.

Inilah julukan yang melekat didiriku “SEORANG PEMBERANG YANG PENYAYANg ?”
Sebenarnya,,sifatku yang pemarah bukan ku sengaja,, ini hanya bentuk sayangku kepada sikecil. Mungkin cara didikanku yang salah atau mungkin memang caraku yang salah, menyalurkan amarahku sebagai bentuk kasih sayangku. Beginilah cara ku berkomunikasi kepada sikecil, sikecil yang berwajah lugu dan polos dengan seorang kakak yang pemberang dan tegas.

Wajahku mungkin terkesan pemberang,,,, tetapi sejujurnya hatiku lembut bak salju yang meneduhkan. Mungkin bagi mereka yang mengenalku sering sekali menjuluki ku seorang “mbak sadis yang cengeng””
 Bagaimana tidak,,,,, tampangku saja bagi mereka menyeramkan,, satu kali pukulanku terasa begitu sakit maka itu julukan dikampusku adalah mbak-mbak sadis..
Terus kalau sadis kenapa disebut “ cengeng ?? terus apa hubungannya cengeng dengan sifat penyayang ???”
 Hmm,,,ku akui aku suka-marah-marah bukan tanpa alasan. Pasti selalu ada sebab yang mampu membuat marah atau bakal uring-uringan. Namun tak bisa ku pungkiri aku memang wanita yang cengeng,, ketika melihat film yang sedih aku bisa langsung menangis tanpa henti-hentinya. Jika melihat orang lain berkata aku bisa saja meneteskan air mata tanpa ku pinta karena rasa keterharuanku terhadap kata-kata yang ia ucapkan, jika melihat orang tua mengendarai sepeda mataku sudah berkaca-kaca.. entahlah  aku pun baru sadar ternyata hatiku begitu cengeng… dari sinilah sifat penyayangku timbul. Ketika ku marah pada sikecil sebenarnya dalam hatiku menyesal,, ingin sekali memeluk sikecil meminta maaf kepadanya. Meminta maaf karena aku belum mampu mengutarakan rasa sayngku padanya dengan  cara yang baik seperti kakak-kakak yang lainnya yang penuh perhatian. Atau bahkan seperti kakak yang lainnya yang dengan sabar menegur adiknya.

Entahlah,,,,sejauh apapun aku berusaha untuk sabar hanya akan berhasil 1 atau 2 hari saja,, esoknya bisa saja aku seperti seorang singa yang meluapkan segala amukannya. Aku berharap pemberangku tidak akan ku pupuk selamanya,,aku ingin wajahku terkesan teduh serta hatiku terkesan lembut agar tak ada lagi sebutan “mbak-mbak sadis atau sebutan “kakak yang pemberang”

mengantar si kecil naik busway**
Dalam hatiku sedih,,, seharian aku luapkan amarahku padanya terasa menyesal ketika ia mulai meninggalkanku. Dari ujung jalan ku amati ia yang sedang menunggu bus, hanya ku ucapkan hati-hati dijalan tanpa senyuman manis dibibirk dan ia dengan sopannya menjabat tanganku dan menciumnya sambil mengatakan “iya kak”” mungkin jawaban akan pesanku kepadanya.
Miris sebenarnya ketika  perasaan ingin memeluknya tak mampu aku lepaskan,,,, mungkin  egoku yang terlalu besar sehingga menutupi rasa sayangku kepadanya. mungkin sifat amarahku yang terlalu lama ku pupuk hingga menutupi sifat kelembutan yang ada dihatiku
“ hati-hati ya dek,,,,jangan lupa sms kakak kalau udah sampai,, kataku dalam hati yang tak ucapkan secara langsung, aku berharap ia mampu membaca suara hatiku. Hati-hati dinda kecilku

#semoga suatu saat engkau temui, bahwa aku bukan kakak yang terkenal pemberangnya tetapi engkau temui aku sebagai kakak dengan sisi kecengengannya di hatiku, dan smeoga engkau temui bahwa sesunggunya dalam sujud-sujudku aku selalu menyematkan doa untuk kebahagiaanmu. Karena sejatinya aku tak pandai berkasih sayang secara spontan dihadapanmu,,aku hanya pandai berkasih sayang dari balik lantunan doa-doa dan sujudku,,,” semoga kelak engkau akan akui aku sebagai sosok kakak *sang Pemberang yang Penyayang*



Tidak ada komentar: