“
Rindu Yang Tak di Rindukan “
Awan masih diposisi yang
sama, bergelayut pada langit yang tak bertiang. Bahkan langit pun masih dalam
nuansa berkabung, karena diselimuti dengan nuansa asap yang sebulan ini belum
juga beranjak dari tahta sementaranya. Seolah-olah asap ingin mengambil alih
posisi indahnya langit biru yang selama ini terbentang dengan indahnya, yang di
sinari dengan sinar mentari yang begitu merekahnya. Dan kemudian bintang-bintang
menghiasi langit malamnya.
Hujan belum juga
terdengar ingin turun dari singgasananya,namun gadis dibalik jendela itu masih
terus menatap ke atas, seolah-olah ia ingin mendapatkan kepastian hujan akan
segera menyambar bumi yang berasap ini. Ya,,,,mungkin kebosanana sudah merasuk
di dalam relung jiwa gadis jendela ini, sebulan kurang lebih asap telah merubah
penampilan desanya. Kini desanya sudah beralih nama bukan lagi desa di bawah
langit biru namun desa diatas awan.ya,,,ini seperti sebuah cerita khayalan
saja,,, namun begitulah yang dirasakan gadis jendela ini.
Sudah hampir 30 menit
berlalu,gadis jendela itu pun tak terusik untuk berpindah dari posisinya. Sepertinya
inilah yang menjadi alasan mengapa ia disebut “ gadis jendela”karena ia lebih
banyaak menghabiskan waktunya dari balik jendela kamarnya. Menatap langit,menyaksikan
adegan-adegan lalu lalang manusia yang
hilir mudik. Seolah-olah ia adalah pengamat dan sutradara yang mengamati para
aktris dan aktornya yang sedang berlatih peran.
Namun,,,,wajah gadis
jendela itu mengapa terlihat selalu sama dalam minggu ini ?? mengurung diri,
dan tak melukiskan senyum manisnya yang biasa ia tebarkan untuk menyapa
mereka-mereka yang melintasi rumahnya. Ah,,,,,pikirku mungkin gadis jendela
sedang ingin mneyendiri,,,
Menyendiri dalam
perenungannya.
Gadis jendela,,,,
September, 30 2015
Ia terlihat murung dan
menyediri dari balik jendela yang tak berbunga itu, hanya terlihat gorden
berwarna merah muda bergelayut di sisinya. dan terlihat pula sebuah diary dan
sebuah pena siap ditangan kanannya,, seolah-olah ia menemukan inspirasi untuk
menulis dari balik jendelanya. Sepertinya,,,setiap orang memiliki gaya menulis
yang berbeda- beda. Ada yang harus pergi ketempat yang indah, ada yang harus
menyediri untuk menghasilkan buah pikiran dalam sebuah kertas putih.
“rindu”,,,gadis jendela
memulai tulisannya dengan kata “rindu”
Hmm,,,,,mungkin ia
sedang merindu,,,merindu pada seseorang yang ada dihatinya atau merindu pada
sesuatu yang hanya ia yang dapat menggambarkan kerinduannya itu dalam
sketsanya.
Tetapi semakin dilihat
ia tidak sekedar menulis kata rindu didiarynya.gadis itu kini menambah judulnya
menjadi “Rindu Yang Tak di Rindukan”
Rindu,,.
Sebuah gambar nuansa
hati
Rindu,,,
Sebuah isyarat
permintaan hati
Rindu,,,
Sebuah isyarat rasa yang
tak terbendungkan lagi.
Namun,,,pada siapa rasa
ini akan dibagi
Bila rindu ini tak lagi
menjadi rasa yang tak dirindukan,,,
Kepada siapa lagi rindu
ini akan ditujukan, jika si alamat tak berkenan menerimanya.
Rindu,,,
Sebuah rasa yang membuat
ku ingin segera bertemu, melepaskannya pada yang dirindukan.
Menghabiskan rasa
kerinduan yang kian lama telah bertumpuk di bilik hati, sendiri menanti waktu
yang tak kian menghampirinya.
Sekali lagi aku merindu
namun rinduku tak lagi dirindukannya,,
Mungkin sudah ada rasa
rindu yang lain mengisinyi, mencuri kesempatan rinduku yang telah ku patri
dihati ini.
Gadis jendela itu kini
meneteskan bulir-bulir air matanya,, sebuah isyarat kata yang tak terucap bahwa
kerinduannya sudah berujung pada rasa yang tak tertahankan. Entah apa yang
sedang terjadi pada gadis diujungjendela itu,, pada siapa ia tujukan rindunya
itu, mengaap rindunya kini menajdi rindu yang tak dirindukan lagi ??
Ada kah sebuah cacat
yang telah ia lakukan,, sehingga membuat sketsa rasa rindunya yang indah itu
kini tak berarti apa-apa lagi bagi seseorang disana.
Namun,,,si gadis jendela masih tetap menyimpan rindu
itu,,,masih di tempat yang sama di daalm hatinya yang penuh dengan cinta
“ sakit sekali,,,ketika
sebuah bayangan indah telah terimaginasi namun tiba-tiba sebuah penghapus besar
menghapusnya menjadi sebuah coretan gelap yang menenggelamkan senyum bahagia
itu”
Tetapi,,,percayalah
gadis dibalik jendela itu tak berhenti menulis kerinduannya pada lembar
itu,,,masih ada lembaran-lembaran kerinduaan yang akan ia tuangkan pada
lembaran lainnya.
Dan masih ditempat yang
sama,,,kali ini gadis jendela itu tersenyum puas,,,puas dengan rindu yang telah
ia ungkapkan meskipun seseorang yang disana tak pernah menyadarinya.
“GADIS
JENDELA SANG PERINDU””
Tidak ada komentar:
Posting Komentar