Rabu, 30 September 2015

“GADIS JENDELA SANG PERINDU””



“ Rindu Yang Tak di Rindukan “

Awan masih diposisi yang sama, bergelayut pada langit yang tak bertiang. Bahkan langit pun masih dalam nuansa berkabung, karena diselimuti dengan nuansa asap yang sebulan ini belum juga beranjak dari tahta sementaranya. Seolah-olah asap ingin mengambil alih posisi indahnya langit biru yang selama ini terbentang dengan indahnya, yang di sinari dengan sinar mentari yang begitu merekahnya. Dan kemudian bintang-bintang menghiasi langit malamnya.

Hujan belum juga terdengar ingin turun dari singgasananya,namun gadis dibalik jendela itu masih terus menatap ke atas, seolah-olah ia ingin mendapatkan kepastian hujan akan segera menyambar bumi yang berasap ini. Ya,,,,mungkin kebosanana sudah merasuk di dalam relung jiwa gadis jendela ini, sebulan kurang lebih asap telah merubah penampilan desanya. Kini desanya sudah beralih nama bukan lagi desa di bawah langit biru namun desa diatas awan.ya,,,ini seperti sebuah cerita khayalan saja,,, namun begitulah yang dirasakan gadis jendela ini.

Sudah hampir 30 menit berlalu,gadis jendela itu pun tak terusik untuk berpindah dari posisinya. Sepertinya inilah yang menjadi alasan mengapa ia disebut “ gadis jendela”karena ia lebih banyaak menghabiskan waktunya dari balik jendela kamarnya. Menatap langit,menyaksikan adegan-adegan lalu lalang manusia  yang hilir mudik. Seolah-olah ia adalah pengamat dan sutradara yang mengamati para aktris dan aktornya yang sedang berlatih peran.

Namun,,,,wajah gadis jendela itu mengapa terlihat selalu sama dalam minggu ini ?? mengurung diri, dan tak melukiskan senyum manisnya yang biasa ia tebarkan untuk menyapa mereka-mereka yang melintasi rumahnya. Ah,,,,,pikirku mungkin gadis jendela sedang ingin mneyendiri,,,
Menyendiri dalam perenungannya.

Gadis jendela,,,,
September, 30 2015
Ia terlihat murung dan menyediri dari balik jendela yang tak berbunga itu, hanya terlihat gorden berwarna merah muda bergelayut di sisinya. dan terlihat pula sebuah diary dan sebuah pena siap ditangan kanannya,, seolah-olah ia menemukan inspirasi untuk menulis dari balik jendelanya. Sepertinya,,,setiap orang memiliki gaya menulis yang berbeda- beda. Ada yang harus pergi ketempat yang indah, ada yang harus menyediri untuk menghasilkan buah pikiran dalam sebuah kertas putih.

“rindu”,,,gadis jendela memulai tulisannya dengan kata “rindu”
Hmm,,,,,mungkin ia sedang merindu,,,merindu pada seseorang yang ada dihatinya atau merindu pada sesuatu yang hanya ia yang dapat menggambarkan kerinduannya itu dalam sketsanya.
Tetapi semakin dilihat ia tidak sekedar menulis kata rindu didiarynya.gadis itu kini menambah judulnya menjadi “Rindu Yang Tak di Rindukan”

Rindu,,.
Sebuah gambar nuansa hati
Rindu,,,
Sebuah isyarat permintaan hati
Rindu,,,
Sebuah isyarat rasa yang tak terbendungkan lagi.
Namun,,,pada siapa rasa ini akan dibagi
Bila rindu ini tak lagi menjadi rasa yang tak dirindukan,,,
Kepada siapa lagi rindu ini akan ditujukan, jika si alamat tak berkenan menerimanya.
Rindu,,,
Sebuah rasa yang membuat ku ingin segera bertemu, melepaskannya pada yang dirindukan.
Menghabiskan rasa kerinduan yang kian lama telah bertumpuk di bilik hati, sendiri menanti waktu yang tak kian menghampirinya.
Sekali lagi aku merindu namun rinduku tak lagi dirindukannya,,
Mungkin sudah ada rasa rindu yang lain mengisinyi, mencuri kesempatan rinduku yang telah ku patri dihati ini.

Gadis jendela itu kini meneteskan bulir-bulir air matanya,, sebuah isyarat kata yang tak terucap bahwa kerinduannya sudah berujung pada rasa yang tak tertahankan. Entah apa yang sedang terjadi pada gadis diujungjendela itu,, pada siapa ia tujukan rindunya itu, mengaap rindunya kini menajdi rindu yang tak dirindukan lagi ??
Ada kah sebuah cacat yang telah ia lakukan,, sehingga membuat sketsa rasa rindunya yang indah itu kini tak berarti apa-apa lagi bagi seseorang disana.
Namun,,,si  gadis jendela masih tetap menyimpan rindu itu,,,masih di tempat yang sama di daalm hatinya yang penuh dengan cinta
“ sakit sekali,,,ketika sebuah bayangan indah telah terimaginasi namun tiba-tiba sebuah penghapus besar menghapusnya menjadi sebuah coretan gelap yang menenggelamkan senyum bahagia itu”
Tetapi,,,percayalah gadis dibalik jendela itu tak berhenti menulis kerinduannya pada lembar itu,,,masih ada lembaran-lembaran kerinduaan yang akan ia tuangkan pada lembaran lainnya.
Dan masih ditempat yang sama,,,kali ini gadis jendela itu tersenyum puas,,,puas dengan rindu yang telah ia ungkapkan meskipun seseorang yang disana tak pernah menyadarinya.
                 
“GADIS JENDELA SANG PERINDU””

Tidak ada komentar: