Senin, 28 September 2015

“Suara hati yang meraung “



“Suara hati yang meraung “
Trisya,,,,, trisya... suara ibu kembali terdengar setelah 2 menit panggilan pertamanya tak mendapatkan respon. Kejadiannya pun masih sama 2x panggilannya tak ada respon sama sekali dari kamarku.

Hingga sekali lagi ia mencoba untuk ketiga kalinya memanggilku dari lorong dapur,, trisya,,,,trisyaa,,,,,,,,kamu dengar nak ???
Dalam waktu 1 menit masih tak ada tanda-tanda terdengar suara,, namun pada detik ke tigapuluh aku baru merespon panggilan ibu dari kamarku.
Iya ibu,,,,,maaf tadi trisya sedang mandi. Jadi tidak menjawab panggilan ibu, kan ibu yang bilang kita dilarang berbicara di kamar mandi, jadi trisya menunggu sampai trisya selesai mandi. (sambil mengusap-usap rambut yang basah karena keramas)
Ada apa ibu,,,,??
Tolong ibu. Tunggu sup kerang ini ya,,,semua bumbu sudah ibu masukkan tinggal kamu rasakan pas atau tidak rasanya, lalu sETELah masak hidangkan di meja makan ya,ibu ada keperluan sebentar kerumah ibu Ani.
Wah,,,ini sup kesukaanku,, ok ibu siaaapppp menjalankan perintah.

** 30 menit berlalu akhirnya tersaji juga sup kerang dimeja makan,, semakin membuatku tak tahan menahan selera padahal jam makan malam belum tiba masih ada 2 jam lagi. Ah,,,sepertinya kalau untuk mencoba 1 mangkuk saja ibu takkan tahu(pikirku)

Sedaaapnya,,,,,emang masakkan ibu yang terbaik. Ini semakin menambah semangatku untuk menulis targetanku malam ini berbicara pada diriku sendiri. Ya inilah diriku yang memiliki pekerjaan sambilan. Pekerjaanku menulis sebuah novel yang sudah dalam minggu ini terbengkalai karena kesibukkanku dalam menyiapkan seminar kuliah, untung saja mbak dinda mengundur deadline pengumpulan naskah 3 hari lagi. Jadi aku harus ekstra keras malam ini.

Pukul 20.00 wib
Semua aktivitasku baru ku mulai dimalam hari. seisi rumah tahu bagaimana kebiasaanku,mereka takkan pernah melihat aku memulai pekerjaan sebelum shalat isya selesai kami tunaikan. itulah prinsip yang selama ini aku pegang. Bagiku terasa tenang jika semua ibadah sudah dilakukan sehingga bisa focus pada pekerjaan lainnya. Aku sibuk dengan naskah-naskahku, adikku lia sibuk dengan PR-PR yang akhir-akhir ini mengkungkungnya dimalam hari menyita sedikit waktu tidurnya. Sedangkan ayah dan ibu mereka akan istirahat total di kamar,,, karena seharian sudah bekerja di kantor.
Maka hanya akulah yang bertahan mengisi senyapnya malam hingga jam 2 dini hari mengetik satu persatu kata-demi kata menjadi sebuah naskah cerita yang siap untuk dibukukan. Aku berharap malam ini aku mampu menyusun emosi hatiku agar cerita yang ku tuliskan lebih menjiwai untuk di baca dan menimbulkan kesan kepuasaan bagi setiap yang membaca.

Sekali lagi aku perkenalkan namaku adalah Trsiya,,,,aku saat ini kuliah di fakultas sastra dan sedang duduk di semester 7 semester dimana aku mulai memikirkan seminar dan skripsiku, cita-citaku menjadi seorang novelis. Bakat ini sudah ku tekuni sejak SMP dan kini aku sudah bekerja sambilan dimana aku memproduksi novel-novelku.

“SUARA HATI YANG MERAUNG”
Novel ini bercerita tentang seorang aktivis yang bergelut dibidang organisasi kampus, dari semester awal sampai saat ini ia tak pernah lepas dari organisasinya, ia gadis yang begitu ceria, dan terkadang ia terkenal usil dan pengganggu namun sifat inilah yang mampu membuat temannya selalu tertawa damai bersamanya. Sebut saja namanya “Syani”

Syani saat ini berada di tingkat akhir, selalu berkecimpung dalam kesibukkan organisasi tak menghambat syani untuk cepat menyelesaikan kuliahnya dalam kurun waktu 3 tahun 8 bulan. Bagi seorang yang memilih jurusan IPA itu adalah suatu hal yang sangat luar biasa.

Suara siulan pagi ini terkesan berbeda,,, terdengar jelas ini adalah suara siulan Syani, tetapi lagu yang dibawakannya tidak seperti genre lagu yang biasanya. Ini bergenre tentang cinta. Mungkinkah syani sedang jatuh cinta?
Jawaban itu mudah sekali untuk di temukan,, syani adalah sosok gadis yang terbuka tidak ada yang tertutupi dari kepribadian Syani,, ia memiliki sahabat terbaik tempat ia mencurahkan semua apa yang ia rasakan. Dan ia mengaku akhir-akhir ini sedang merasakan kasmaran.

Syani mencintai lelaki yang sudah ia anggap sebagi teman kelasnya, sudah hampir 4 tahun ia mengenalnya,, dari awal perkuliahan hingga sampai ia akan di wisuda. Mulanya syani menganggap itu adalah perasaan kagum terhadap perubahan kepribadiannya. Lelaki itu yang dulunya acuh tak acuh kini berubah menjadi sosok yang friendly… dan selalu melempar senyum kepada setiap orang yang lalu lalang dihadapannya. Hal inilah yang membuat benih-benih cinta itu tumbuh dihati Syani. Meskipun hampir 2 tahun lebih ia memendamnya namun ditahun ketiga ini ia merasa perasaan ini semakin membuatnya tersudut.
Ketika berpapasannya dengannya seakan-akan mulutnya terkunci,bahkan terkadang syani harus menghindari pertemuannya dengannya. Meskipun syani tahu ini hanya cinta sepihak alias cinta yang takkkan terbalas. Tetapi suara hatinya tak pernah padam,bahkan ia semakin membara dan akan berdegub kencang ketika sang lelaki ada di sekitarnya seolah-olah signal telepati itu ada.

Getaran-getaran hatinya tak mungkin ia ungkapan kepada sosok lelaki itu, ia sangat tahu betul lelaki itu memegang prinsip bahwa ia takkan pacaran. baginya pacaran setelah menikah itu lebih indah dan menghindari zina. Maka hanya kepada tuhan lah ia mencurahkan semua perasaannya di tengah malam.

Ia akan mulai meracau sendiri di tengah malam, menuliskan semua doa-doa untuk ia dan sang lelaki, berharap sang maha pencinta mendengarkan doanya dan menyatukan hatinya yang telah lama ditumbuhi perasaan suka terhadap sosok lelaki itu. Ia akan merasakan ketenangan jika ia sudah selesai menyuarakan semua perasaan kepada malam yang kosong. Karena ia tahu malam  takkan pernah membocorkan rahasia cintanya yang hanya sepihak, karena jodoh itu hanya tuhan yang menentukan. Sebagai manusia yang seutuhnya diberikan hati yang dapat merasakan apa itu cinta, apa itu kesedihan sudah selayaknya bersyukur meskipun kelak cinta itu atau rasa bahagia itu kapan saja akan digantikan oleh rasa kesedihan.
Maka hanya dalam diam syani akan menyembunyikan perasaan ini, meskipun suara dari hatinya selalu meraung berharap ia mengutarakan apa yang ia rasakan kepada sosok lelaki yang sepenuhnya telah memikat hatinya.
Karena Syani menyadari, dalam diam ia masih bisa curi-curi pandang untuk menatap sosok lelaki tersebut, dalam diam ia masih bisa berlaku apa adanya kepada sosok lelaki tersebut tanpa harus memperlihatkan isi hatinya. Dan karena dalam Diam Syani percaya Bahwa ia selalu berdoa sosok lelaki itu adalah pangeran syurganya.

Tidak ada komentar: