Suara-suara berisik itu masih terus bergeming
ditelingaku,,
Masih terus betah bersemayam disetiap aktivitasku,,
pagi, siang dan sore tanpa alpa.
Bahkan aku pun mulai meresakan kedamaianku mulai
terusik olehnya. Please jika aku bisa meminta secara face to face kepadanya aku
ingin suara-suara kegaduhan itu berubah jadi lantunan-lantunan syair ayat
Al-quran yang akan menyejukkan hati-hati pendengar setianya.
Ah,,,,
Pikirku mana mungkin suara gaduh itu bisa beralih
menjadi apa yang aku inginkan,,,berbicara kepadanya saja aku susah, untuk
bertemu kepadanya aku susah. Sudah hampir 1 minggu aku dirumah,,,baru 2 hari
aku lihat ia dirumah menghabiskan waktu bersama jarum jam yang tak pernah bosan
berputar 24 jam sehari dari detik menit sampai ke jam.
Face to face,, planning yang sudah aku susun rapi di
buku agendaku pun tak satu pun yang terwujud, padahal hanya kecil keinginanku
itu. Aku ingin ada tanda check list diujung deretan planning yang telah aku
rancang untuk mengisi waktu libur semesterku. Ya mungkin belum waktunya,,,aku
pun binggung harus kapan waktu yang aku tunggu itu siap diluncurkan dan siap
untuk dijemput. Bahkan terkadang aku bosan untuk melanturkan doa-doaku dalam
setiap rakaat-rakaat shalatku hanya untuk ini semua..
Arggh,,,,aku siapalah ?? aku bukan tuhan yang maha
pemilik segala takdir,, aku bukan tuhan pemilik setiap hati hamba-hambanya,,
aku juga bukan seorang sutradara yang mudah saja merubah scene sesuai yang aku
inginkan.
Aktivitasku dirumah bahkan lebih menyita waktuku
daripada ketika aku berada dipekanbaru,,semua waktuku ku isi untuk melayani
pembeli yang silih berganti. Dari pembelian seharga Rp 500 sampai Rp 200.000
harus aku hadapi seharian full. Bahkan mataku yang baru terpejam 5 menit
dibantalan sofa pun masih saja terganggu dengan suara-suara
“ kak,,,,beli jajan,,,kak beli sabun,,,kak beli ini
kak,,beli itu”
Ini mungkin resiko seorang pedagang,,,mungkin jiwaku
saja yang tak cocok dengan usaha ini. Tak tergekitik sedikit pun hatiku untuk
mengikuti profesi ini. Tetapi mungkin proyeksi kedepan aku akan tergelitik
pikirku sembari mencatat 1 per 1 hasil penjualan hari ini. Keping demi keping
logam aku hitung untuk mencari angka ribuan,,,dan selembar demi selembar aku
satukan agar menjadi uang Rp 10.000
*********
Suara-suara itu hari ini sudah hilang sejak pukul
04.00 pagi, bahkan aku pun masih berpelukan mesra dengan selimut dan
bantal-bantalku. Tak terdengar ia membangunkan aku, yang aku dengar deru suara
mobil pertama kali ketika distarter, yang jelasnya aku ingat ini jadwal
rutinitas ia setiap minggu untuk menjajakan dagangan di pasar jum’at dikawasan
daerah duri disana.
Entah kenapa,, mataku tak ingin berdamai
denganku,,,langkah kakiku pun tak ingin beranjak dari kasur untuk mengecheck
dan mengantar kepergiannya, barang kali ada doa yang bisa aku ucapkan untuk
mengantar keberangkatan ia pagi ini….
Aku terbangun jam 6 kurang, masih ada wajah mungil
adek ku berdengkur tenang dalam tidurnya,, ayahku sudah bangun lebih awal
dariku. Teh panas sudah siap untuk ia seduh,, seharusnya aku yang
menghidangkannya menggantikan peran ibu pagi ini. Ah,,,,malunya aku gadis yang
sering bangun kesiangan.
“ hari ini ayah kerja,,,?? Tanyaku pertama kali dari
bilik kamarku,,,
Harap-harap cemas karena aku masih belum tahu menu
makanan apa yang akan aku siapkan untuk adik-adik dan ayahku. Karena aku baru
ingat ibuku tak meninggalkan pesan apapun terkait masakan hari ini, bahkan ia
pun lupa menyelipkan uang dibalik bantal tidurku untuk kami berjaga-jaga ketika
ia tidak dirumah.
“semoga masih ada menu makanan di lemari, atau menu
lain dikulkas.”
1 jam semua makanan telah tersaji rapi, segelas susu
bubuk hilo teen telah terhidang pula untuk sikecil yang jarang sarapan. Kalau
menu makanan hari itu cocok baru lah ia akan makanan.
Baginya makanan itu hanya sampingan,,,prinsip adek
kecilku.
“yah,,,kerja?/ tanyaku kedua kalinya pada ayah yang
masih duduk disofa menikmati menu teh yang belum berkurang dari setengah
gelasnya”
“ayah mau kerja apa,,,,kerjaannya udah siap kok,,
ayah hari ini dirumah aja”
“ohh,,,,,ya udah kalau mau sarapan udah siap semua”
Profesi ayah dan ibuku berbeda, ayah hanya seorang
buruh sedangkan ibu pedagang. Ibu selalu pergi pagi dan pulang petang dengan
barang dagangannya, sedangkan ayah ia selalu sibuk dengan peralatan untuk
memanen sawitnya. Paling efisien waktu ia bekerja hanya 3 hari dalam setiap
minggunya,,dan itupun akhir-akhir ini tidak berbuah bagus. Biasanya ayah mampu
menghasilkan lebih kurang 2 juta dalam satu bulan. Kini ia hanya menghasilkan
Rp 150.000/ minggu yang mungkin tidak cukup untuk kebutuhan kami sehari-hari.
wajar saja suara-suara gaduh dan berisik itu dibulan-bulan ini lebih sering
berkicau dari bulan-bulan baisanya. Inilah yang sedang dikeluhkan petani, harga
sawit naik namun buah sawit trek. Yang biasanya mampu menghasilkan 3 ton kini
hanya bernilai 500 kiloan saja. Nasib petani sedang tercekik di awal bulan
tahun 2016 ini. Aku berharap kondisi sawit akan kembali pulih, tidak tega
melihat ayah harus selalu menerima suara-suara gaduh disetiap hari-harinya.
Bahkan aku saja stress untuk mendengarnya apalagi ayah selaku kepala rumah
tangga. Aku seperti bersembunyi dalam topeng, yang pura-pura menutupi apa-apa
yang aku tahu, apa-apa yang aku rasa, untuk mengurangi kecemasan ayah. Aku tahu
wajah tua itu sudah cukup lelah untuk bekerja, aku tahu wajah tua itu seperti
ingin beristirahat, namun apalah daya kondisi kami yang tak memungkinkan. Aku dan
2 adiku masih menopang hidup pada usaha keras dan keringat ayah dan ibu.
Goresan-goresan urat diwajah itu semakin
mengendur,,,namun wajah tua itu selalu ia paksakan untuk berbicara bijak,
menyunggingkan senyum seolah-olah ia sedang baik-baik saja padahal ia sedang
bersandiwara, ia sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Ya wajah tua itu
masih diwajah yang sama yaitu wajah milik ayahku…
Aku pun tak tahu kapan menggantikan posisinya untuk
mencari nafkah,,,sekedar meringankan bebannya. Mengambil peran yang selama ini
Ia geluti untuk membiayai adik-adikku. Anak mana yang tega ketika wajah yang
sudah tua itu harus terus bekerja
keras?? Anak mana yang akan tegah ketika wajah-wajah tua itu mengiba ingin
beristirahat?? Ahh,,,,Tuhan masih lamakah gelar S1 itu aku dapatkan??
Meskipun aku tak tahu apakah ketika gelar S1 itu
mengiring diujung namaku menjadi Tri Suryani, S.Pd kondisi ini akan cepat
berubah ?? aku pun tak bisa menjaminnya,, ini hanya harapan dari gadis kecil
yang mengharap suara-suara gaduh itu hilang disetiap jejak kehidupannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar