Kamis, 28 Januari 2016

Aku dan Suara gaduh itu



Suara-suara berisik itu masih terus bergeming ditelingaku,,
Masih terus betah bersemayam disetiap aktivitasku,, pagi, siang dan sore tanpa alpa.
Bahkan aku pun mulai meresakan kedamaianku mulai terusik olehnya. Please jika aku bisa meminta secara face to face kepadanya aku ingin suara-suara kegaduhan itu berubah jadi lantunan-lantunan syair ayat Al-quran yang akan menyejukkan hati-hati pendengar setianya.
Ah,,,,
Pikirku mana mungkin suara gaduh itu bisa beralih menjadi apa yang aku inginkan,,,berbicara kepadanya saja aku susah, untuk bertemu kepadanya aku susah. Sudah hampir 1 minggu aku dirumah,,,baru 2 hari aku lihat ia dirumah menghabiskan waktu bersama jarum jam yang tak pernah bosan berputar 24 jam sehari dari detik menit sampai ke jam.
Face to face,, planning yang sudah aku susun rapi di buku agendaku pun tak satu pun yang terwujud, padahal hanya kecil keinginanku itu. Aku ingin ada tanda check list diujung deretan planning yang telah aku rancang untuk mengisi waktu libur semesterku. Ya mungkin belum waktunya,,,aku pun binggung harus kapan waktu yang aku tunggu itu siap diluncurkan dan siap untuk dijemput. Bahkan terkadang aku bosan untuk melanturkan doa-doaku dalam setiap rakaat-rakaat shalatku hanya untuk ini semua..
Arggh,,,,aku siapalah ?? aku bukan tuhan yang maha pemilik segala takdir,, aku bukan tuhan pemilik setiap hati hamba-hambanya,, aku juga bukan seorang sutradara yang mudah saja merubah scene sesuai yang aku inginkan.


Aktivitasku dirumah bahkan lebih menyita waktuku daripada ketika aku berada dipekanbaru,,semua waktuku ku isi untuk melayani pembeli yang silih berganti. Dari pembelian seharga Rp 500 sampai Rp 200.000 harus aku hadapi seharian full. Bahkan mataku yang baru terpejam 5 menit dibantalan sofa pun masih saja terganggu dengan suara-suara
“ kak,,,,beli jajan,,,kak beli sabun,,,kak beli ini kak,,beli itu”
Ini mungkin resiko seorang pedagang,,,mungkin jiwaku saja yang tak cocok dengan usaha ini. Tak tergekitik sedikit pun hatiku untuk mengikuti profesi ini. Tetapi mungkin proyeksi kedepan aku akan tergelitik pikirku sembari mencatat 1 per 1 hasil penjualan hari ini. Keping demi keping logam aku hitung untuk mencari angka ribuan,,,dan selembar demi selembar aku satukan agar menjadi uang Rp 10.000
*********
Suara-suara itu hari ini sudah hilang sejak pukul 04.00 pagi, bahkan aku pun masih berpelukan mesra dengan selimut dan bantal-bantalku. Tak terdengar ia membangunkan aku, yang aku dengar deru suara mobil pertama kali ketika distarter, yang jelasnya aku ingat ini jadwal rutinitas ia setiap minggu untuk menjajakan dagangan di pasar jum’at dikawasan daerah duri disana.
Entah kenapa,, mataku tak ingin berdamai denganku,,,langkah kakiku pun tak ingin beranjak dari kasur untuk mengecheck dan mengantar kepergiannya, barang kali ada doa yang bisa aku ucapkan untuk mengantar keberangkatan ia pagi ini….

Aku terbangun jam 6 kurang, masih ada wajah mungil adek ku berdengkur tenang dalam tidurnya,, ayahku sudah bangun lebih awal dariku. Teh panas sudah siap untuk ia seduh,, seharusnya aku yang menghidangkannya menggantikan peran ibu pagi ini. Ah,,,,malunya aku gadis yang sering bangun kesiangan.

“ hari ini ayah kerja,,,?? Tanyaku pertama kali dari bilik kamarku,,,
Harap-harap cemas karena aku masih belum tahu menu makanan apa yang akan aku siapkan untuk adik-adik dan ayahku. Karena aku baru ingat ibuku tak meninggalkan pesan apapun terkait masakan hari ini, bahkan ia pun lupa menyelipkan uang dibalik bantal tidurku untuk kami berjaga-jaga ketika ia tidak dirumah.
“semoga masih ada menu makanan di lemari, atau menu lain dikulkas.”
1 jam semua makanan telah tersaji rapi, segelas susu bubuk hilo teen telah terhidang pula untuk sikecil yang jarang sarapan. Kalau menu makanan hari itu cocok baru lah ia akan makanan.
Baginya makanan itu hanya sampingan,,,prinsip adek kecilku.
“yah,,,kerja?/ tanyaku kedua kalinya pada ayah yang masih duduk disofa menikmati menu teh yang belum berkurang dari setengah gelasnya”
“ayah mau kerja apa,,,,kerjaannya udah siap kok,, ayah hari ini dirumah aja”
“ohh,,,,,ya udah kalau mau sarapan udah siap semua”

Profesi ayah dan ibuku berbeda, ayah hanya seorang buruh sedangkan ibu pedagang. Ibu selalu pergi pagi dan pulang petang dengan barang dagangannya, sedangkan ayah ia selalu sibuk dengan peralatan untuk memanen sawitnya. Paling efisien waktu ia bekerja hanya 3 hari dalam setiap minggunya,,dan itupun akhir-akhir ini tidak berbuah bagus. Biasanya ayah mampu menghasilkan lebih kurang 2 juta dalam satu bulan. Kini ia hanya menghasilkan Rp 150.000/ minggu yang mungkin tidak cukup untuk kebutuhan kami sehari-hari. wajar saja suara-suara gaduh dan berisik itu dibulan-bulan ini lebih sering berkicau dari bulan-bulan baisanya. Inilah yang sedang dikeluhkan petani, harga sawit naik namun buah sawit trek. Yang biasanya mampu menghasilkan 3 ton kini hanya bernilai 500 kiloan saja. Nasib petani sedang tercekik di awal bulan tahun 2016 ini. Aku berharap kondisi sawit akan kembali pulih, tidak tega melihat ayah harus selalu menerima suara-suara gaduh disetiap hari-harinya. Bahkan aku saja stress untuk mendengarnya apalagi ayah selaku kepala rumah tangga. Aku seperti bersembunyi dalam topeng, yang pura-pura menutupi apa-apa yang aku tahu, apa-apa yang aku rasa, untuk mengurangi kecemasan ayah. Aku tahu wajah tua itu sudah cukup lelah untuk bekerja, aku tahu wajah tua itu seperti ingin beristirahat, namun apalah daya kondisi kami yang tak memungkinkan. Aku dan 2 adiku masih menopang hidup pada usaha keras dan keringat ayah dan ibu.

Goresan-goresan urat diwajah itu semakin mengendur,,,namun wajah tua itu selalu ia paksakan untuk berbicara bijak, menyunggingkan senyum seolah-olah ia sedang baik-baik saja padahal ia sedang bersandiwara, ia sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Ya wajah tua itu masih diwajah yang sama yaitu wajah milik ayahku…
Aku pun tak tahu kapan menggantikan posisinya untuk mencari nafkah,,,sekedar meringankan bebannya. Mengambil peran yang selama ini Ia geluti untuk membiayai adik-adikku. Anak mana yang tega ketika wajah yang sudah tua itu  harus terus bekerja keras?? Anak mana yang akan tegah ketika wajah-wajah tua itu mengiba ingin beristirahat?? Ahh,,,,Tuhan masih lamakah gelar S1 itu aku dapatkan??
Meskipun aku tak tahu apakah ketika gelar S1 itu mengiring diujung namaku menjadi Tri Suryani, S.Pd kondisi ini akan cepat berubah ?? aku pun tak bisa menjaminnya,, ini hanya harapan dari gadis kecil yang mengharap suara-suara gaduh itu hilang disetiap jejak kehidupannya.

Tidak ada komentar: