Part
1
Aku binggung apa kabar dengan kader dakwah saat
ini??
Aku binggung apa kabar iman kader dakwah saat ini??
Aku binggung apa kabar komitmen kader dakwah yang
selalu digeming-gemingkan “istiqomah…istiqomah akhi wa ukhti ?? antum wa
antuna??
Aku binggung virus-virus apa yang sedang merambah
pertahanan keimanan kader dakwah ??
Aku binggung gejala-gejala apa yang sedang menjamuri
semangat-semangat juang seorang kader dakwah ?? apakah virus-virus kecil itu
melemahkan iman-iman kita kini?
hari kemarin memang berbeda dengan hari ini ukhti wa
ukhi…… zaman kita bukan lagi zaman seperti Rasulullah, yang tersebar
pemuda-pemuda gagah berani, baik muda atau tua yang semuanya cerdas-cerdas dan
sangat komitmen dengan dakwah ini. Yang kecintaannya terhadap Rasulullah begitu
besar, mereka rela berkorban dengan darah-darah segar mereka hanya untuk
membela panji-panji dakwah ini yang kita kenal dengan Islam. Hari ini berbeda
kawand,,,,tak kita temui lagi sosok pemikir, sosok pemimpin seperti Rasulullah,
seperti Abu bakar, seperti Umar dan seperti Muhammad Al-Fatih yang terkenal
namanya, yang namanya kini dapat kita kenal dengan membaca buku-buku sirah
sahabat.
Apa kabar kader dakwah ?? hari ini di zamanku aku
tak temui lagi komitmen-komitmen istiqomah-istiqomah itu,, malah semakin ku
temui fenomena-fenomena melemahnya istilah keistiqomahan itu. Hari ini ku temui
kader-kader dakwah yang melempem bak peyek yang dibiarkan di udara terbuka,
kondisinya masih cantik namun tak berbunyi gurih ketika dikunyah, hari ini tak
ku temui lagi kader-kader dakwah yang dengan beraninya berdakwah secara
terang-terang seperti yang dicontohkan dalam film yang sedang hangat-hangatnya
“Sosok Yudi dan Mas Gagah dalam cerita ketika Mas Gagah Pergi”
Hai kader Dakwah,,,,,,
Aku binggung harus menilai letak kesalahan-kesalahan
dan letak kelalaian kita. Aku juga bukan orang yang ma’sum seperti Rasulullah.
Aku juga masih belajar, ya belajar terus memahami apa tugas dan kewajiban Kita
sebagai seorang Kader Dakwah. Aku bukan Dewan Hakim yang berhak menjatuhkan
vonis hukuman atas kesalahan-kesalahan yang mungkin silaf kita lakukan.
Tetapi,,,Akhi wa Ukhti,,,,entah kenapa hatiku
semakin resah jika keluhan-keluhan di telingaku,, keluhan-keluhan dimataku yang
selalu berlalu lalang dihadapanku mendorongku lebih keras sehingga membuat
tekanan ketidaknyaman yang kurasakan semakin besar. Ternyata benar rumus-rumus
fisika yang selama ini aku pelajari. Tekanan selalu berbanding Lurus dengan
Gaya/Dorongan. Semakin besar gaya yang kita berikan maka akan semakin besar
tekanan yang diberikan. Tekanan yang membuat bibirku lelah untuk membisu,,
tekanan yang memaksa hatiku untuk berani, berani untuk sekedar mengevaluasi,
berani untuk sekedar memberikan refleksi perbaikan diri.
Akhi wa Ukhti, sekali lagi ana bukan yang paling
benar, ana bukanlah yang paling baik namun amar makhruf nahi mungkar tetap harus
kita tegakkan….apakah pantas kita yang katanya seorang kader dakwah membisu
melihat kejanggalan-kejanggalan dari saudara-saudara kita?? Senangkah kita jika
ke syurga sendiri-sendiri? Sukakah kita jika Baik untuk pribadi sendiri bukan
untuk umat??
Akhi wa ukhti
“apa kabar dengan Tugas-tugas kita sebagai kader
Dakwah saat ini??
Hari ini begitu banyak fenomena-fenomena kebathilan
yang kita anggap menjadi sebuah kebaikan “ benarlah jika kejahatan itu secara
terus menerus diulangi dan terulangi lagi,
maka akan menjadi sebuah kebenaran”.
Hari ini ketika melihat saudara-saudara kita,
adik-adik kita yang dengan terang-terangan merokok, kita seakan meluruh, seakan
energi keberanian itu terlucuti dari kita, enggan dan merasa malu untuk
menegurnya dan kemudian memaksa kita untuk tetap membiarkannya. Hari ini ketika
Dunia sedang gempar dengan fenomena-fenomena aliran sesat, datang lagi fenomena
baru agama baru yang meminta untuk dilegalkan, saat semua isu itu belum
terselesaikan kini kita dengarkan kekacauan lain yang timbul di bumi tempat
kita tinggal. LGBT “Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender” yang selayaknya
membuat kita kader-kader dakwah berantusias untuk mencari solusi, menyiapkan
perisai ampuh untuk masyarakat awam, memberikan pemahaman, dan petisi penolakan
LGBT. Namun,,, wahai kader dakwah akhi wa Ukhti, bahwa pada hari ini ana
menyaksikan bahwa ada ide-ide dari generasi-generasi islam yang menuliskan
scenario kabaret berlakonan banji, waria, preman. Lantas tak kah terketuk mata
kita untuk menitikkan air mata ketika melihatnya ?? lantas tak tergelitikkah
hati kita untuk malu ?? bahkan yang begitu mencenggangkan, pelakon utama dari
kabaret ini adalah seorang yang katanya Kader Dakwah..
Saat kita yang menjadi pemimpin tak menyadari itu
adalah sebuah kejahatan. Saat kita yang memiliki tampuk pemegang keputusan,
semakin membiarkan perempuan-perempuan berada diareal kampus hingga malam,
membiarkan foto berdua kita dengan yang bukan muhrimnya dipajang disosmed. Ana
semakin kecewa ukhti wa akhi. Kecewa dengan istilah yang melekat lembut “Kader
Dakwah?” ketika kita sendiri tak mampu menegakkan arti kebenaran, arti aturan
jam kerja seorang perempuan dan lelaki dan ketika kita juga tak menyadari akan
kesalahan scenario kabaret leluconan tersebut?? Apa kata Dunia yang saat ini
sedang bergeming “Menolak Kehadiran LGBT” lalu tanpa kita sadari kita
seolah-olah mendukung proyek-proyek LBGT dengan permainan kabaret yang katanya
untuk menghibur penonton-penonton tertawa??
Apa kabar dengan keistiqomahan dan pemahaman kita
hari ini Akhi wa Ukhti ??
Jika dengan hal seperti itu saja kita tidak mampu
menyadari bahwa ada sebuah makna kesalahan didalamnya, lantas sudah sejauh mana
pemahaman-pemahaman kita akhi wa ukhti sebagai seorang kader dakwah ??
Kita terlalu
banyak terlena,,, terlena dengan kondisi zona aman kita. Kita terlalu terlena,
merasa diri kita yang paling sholeh, sehingga menimbulkan sifat ujub yang
menganggap diri kita lebih banyak ilmunya dari pada orang….
Ana malu ya akhi wa Ukhti,,,,malu karena belum mampu
menjadi kader Dakwah yang benar-benar berpotensi selayaknya pemuda-pemudi Islam
digenerasi Rasulullah.
Ana malu ya Akhi wa Ukhti,,,,, banyak sekali hal-hal
kecil yang kita anggap sebuah hal
sepele, sebuah hal yang sekedar hiburan namun tenyata mengandung nilai
kemudharatan yang lebih besar daripada nilai kebajikan namun tidak kita sadari…
Ana malu ya Akhi wa Ukhti ternyata kita hanya
mengenal ilmu itu dikulitnya saja, dan buta didalamnya!!!!
Lantas siapakah yang patut disalahkan jika kondisi
ini sudah terjadi??
Bisakah kita marah kepada mereka??
Lalu,,,,kenapa kita tidak memaki diri kita saja??
Kenapa kita tidak merefleksi diri kita mengintropeksi diri kita bahwa “Ini
Kesalahan Kita”
Kita yang lalai mengawasi, kita yang lalai
mendampingi, kita yang Lalai menjadi monitor yang mengawasi pertumbuhan ide-ide
kreatif dari adik-adik kita??
Sekali lagi,,,,
Apa Kabar tentang Tugas dan Kewajiban Kita yang
katanya Seorang Kader Dakwah ???
Semoga ini menjadi refleksi untuk memperbaiki
diri-diri kita, semoga tak ada lagi kader-kader dakwah yang “Keder” tetapi yang
ada adalah Kader-Kader Dakwah yang “Benar-benar Kader yang paham dengan
sepaham-pahamnya arti amar makruf nahi mungkar dan mampu menebarkan nilai-nilai
kebajikan diatas bumi cinta-Nya…aamiin”
Pekanbaru,
5 Februari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar