Senin, 08 Februari 2016

Ada Apa Dengan Kader Dakwah??





Part 1
Aku binggung apa kabar dengan kader dakwah saat ini??
Aku binggung apa kabar iman kader dakwah saat ini??
Aku binggung apa kabar komitmen kader dakwah yang selalu digeming-gemingkan “istiqomah…istiqomah akhi wa ukhti ?? antum wa antuna??
Aku binggung virus-virus apa yang sedang merambah pertahanan keimanan kader dakwah ??
Aku binggung gejala-gejala apa yang sedang menjamuri semangat-semangat juang seorang kader dakwah ?? apakah virus-virus kecil itu melemahkan iman-iman kita kini?

hari kemarin memang berbeda dengan hari ini ukhti wa ukhi…… zaman kita bukan lagi zaman seperti Rasulullah, yang tersebar pemuda-pemuda gagah berani, baik muda atau tua yang semuanya cerdas-cerdas dan sangat komitmen dengan dakwah ini. Yang kecintaannya terhadap Rasulullah begitu besar, mereka rela berkorban dengan darah-darah segar mereka hanya untuk membela panji-panji dakwah ini yang kita kenal dengan Islam. Hari ini berbeda kawand,,,,tak kita temui lagi sosok pemikir, sosok pemimpin seperti Rasulullah, seperti Abu bakar, seperti Umar dan seperti Muhammad Al-Fatih yang terkenal namanya, yang namanya kini dapat kita kenal dengan membaca buku-buku sirah sahabat.

Apa kabar kader dakwah ?? hari ini di zamanku aku tak temui lagi komitmen-komitmen istiqomah-istiqomah itu,, malah semakin ku temui fenomena-fenomena melemahnya istilah keistiqomahan itu. Hari ini ku temui kader-kader dakwah yang melempem bak peyek yang dibiarkan di udara terbuka, kondisinya masih cantik namun tak berbunyi gurih ketika dikunyah, hari ini tak ku temui lagi kader-kader dakwah yang dengan beraninya berdakwah secara terang-terang seperti yang dicontohkan dalam film yang sedang hangat-hangatnya “Sosok Yudi dan Mas Gagah dalam cerita ketika Mas Gagah Pergi”
Hai kader Dakwah,,,,,,
Aku binggung harus menilai letak kesalahan-kesalahan dan letak kelalaian kita. Aku juga bukan orang yang ma’sum seperti Rasulullah. Aku juga masih belajar, ya belajar terus memahami apa tugas dan kewajiban Kita sebagai seorang Kader Dakwah. Aku bukan Dewan Hakim yang berhak menjatuhkan vonis hukuman atas kesalahan-kesalahan yang mungkin silaf kita lakukan.
Tetapi,,,Akhi wa Ukhti,,,,entah kenapa hatiku semakin resah jika keluhan-keluhan di telingaku,, keluhan-keluhan dimataku yang selalu berlalu lalang dihadapanku mendorongku lebih keras sehingga membuat tekanan ketidaknyaman yang kurasakan semakin besar. Ternyata benar rumus-rumus fisika yang selama ini aku pelajari. Tekanan selalu berbanding Lurus dengan Gaya/Dorongan. Semakin besar gaya yang kita berikan maka akan semakin besar tekanan yang diberikan. Tekanan yang membuat bibirku lelah untuk membisu,, tekanan yang memaksa hatiku untuk berani, berani untuk sekedar mengevaluasi, berani untuk sekedar memberikan refleksi perbaikan diri.
Akhi wa Ukhti, sekali lagi ana bukan yang paling benar, ana bukanlah yang paling baik namun amar makhruf nahi mungkar tetap harus kita tegakkan….apakah pantas kita yang katanya seorang kader dakwah membisu melihat kejanggalan-kejanggalan dari saudara-saudara kita?? Senangkah kita jika ke syurga sendiri-sendiri? Sukakah kita jika Baik untuk pribadi sendiri bukan untuk umat??
Akhi wa ukhti
“apa kabar dengan Tugas-tugas kita sebagai kader Dakwah saat ini??
Hari ini begitu banyak fenomena-fenomena kebathilan yang kita anggap menjadi sebuah kebaikan “ benarlah jika kejahatan itu secara terus menerus diulangi dan terulangi lagi,  maka akan menjadi sebuah kebenaran”.
Hari ini ketika melihat saudara-saudara kita, adik-adik kita yang dengan terang-terangan merokok, kita seakan meluruh, seakan energi keberanian itu terlucuti dari kita, enggan dan merasa malu untuk menegurnya dan kemudian memaksa kita untuk tetap membiarkannya. Hari ini ketika Dunia sedang gempar dengan fenomena-fenomena aliran sesat, datang lagi fenomena baru agama baru yang meminta untuk dilegalkan, saat semua isu itu belum terselesaikan kini kita dengarkan kekacauan lain yang timbul di bumi tempat kita tinggal. LGBT “Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender” yang selayaknya membuat kita kader-kader dakwah berantusias untuk mencari solusi, menyiapkan perisai ampuh untuk masyarakat awam, memberikan pemahaman, dan petisi penolakan LGBT. Namun,,, wahai kader dakwah akhi wa Ukhti, bahwa pada hari ini ana menyaksikan bahwa ada ide-ide dari generasi-generasi islam yang menuliskan scenario kabaret berlakonan banji, waria, preman. Lantas tak kah terketuk mata kita untuk menitikkan air mata ketika melihatnya ?? lantas tak tergelitikkah hati kita untuk malu ?? bahkan yang begitu mencenggangkan, pelakon utama dari kabaret ini adalah seorang yang katanya Kader Dakwah..
Saat kita yang menjadi pemimpin tak menyadari itu adalah sebuah kejahatan. Saat kita yang memiliki tampuk pemegang keputusan, semakin membiarkan perempuan-perempuan berada diareal kampus hingga malam, membiarkan foto berdua kita dengan yang bukan muhrimnya dipajang disosmed. Ana semakin kecewa ukhti wa akhi. Kecewa dengan istilah yang melekat lembut “Kader Dakwah?” ketika kita sendiri tak mampu menegakkan arti kebenaran, arti aturan jam kerja seorang perempuan dan lelaki dan ketika kita juga tak menyadari akan kesalahan scenario kabaret leluconan tersebut?? Apa kata Dunia yang saat ini sedang bergeming “Menolak Kehadiran LGBT” lalu tanpa kita sadari kita seolah-olah mendukung proyek-proyek LBGT dengan permainan kabaret yang katanya untuk menghibur penonton-penonton tertawa??
Apa kabar dengan keistiqomahan dan pemahaman kita hari ini Akhi wa Ukhti ??
Jika dengan hal seperti itu saja kita tidak mampu menyadari bahwa ada sebuah makna kesalahan didalamnya, lantas sudah sejauh mana pemahaman-pemahaman kita akhi wa ukhti sebagai seorang kader dakwah ??
 Kita terlalu banyak terlena,,, terlena dengan kondisi zona aman kita. Kita terlalu terlena, merasa diri kita yang paling sholeh, sehingga menimbulkan sifat ujub yang menganggap diri kita lebih banyak ilmunya dari pada orang….
Ana malu ya akhi wa Ukhti,,,,malu karena belum mampu menjadi kader Dakwah yang benar-benar berpotensi selayaknya pemuda-pemudi Islam digenerasi Rasulullah.
Ana malu ya Akhi wa Ukhti,,,,, banyak sekali hal-hal kecil yang kita anggap  sebuah hal sepele, sebuah hal yang sekedar hiburan namun tenyata mengandung nilai kemudharatan yang lebih besar daripada nilai kebajikan namun tidak kita sadari…
Ana malu ya Akhi wa Ukhti ternyata kita hanya mengenal ilmu itu dikulitnya saja, dan buta didalamnya!!!!
Lantas siapakah yang patut disalahkan jika kondisi ini sudah terjadi??
Bisakah kita marah kepada mereka??
Lalu,,,,kenapa kita tidak memaki diri kita saja?? Kenapa kita tidak merefleksi diri kita mengintropeksi diri kita bahwa “Ini Kesalahan Kita”
Kita yang lalai mengawasi, kita yang lalai mendampingi, kita yang Lalai menjadi monitor yang mengawasi pertumbuhan ide-ide kreatif dari adik-adik kita??
Sekali lagi,,,,
Apa Kabar tentang Tugas dan Kewajiban Kita yang katanya Seorang Kader Dakwah ???
Semoga ini menjadi refleksi untuk memperbaiki diri-diri kita, semoga tak ada lagi kader-kader dakwah yang “Keder” tetapi yang ada adalah Kader-Kader Dakwah yang “Benar-benar Kader yang paham dengan sepaham-pahamnya arti amar makruf nahi mungkar dan mampu menebarkan nilai-nilai kebajikan diatas bumi cinta-Nya…aamiin”
                                                                                                Pekanbaru, 5 Februari 2016

Tidak ada komentar: