Rabu, 22 Juni 2016

RAMADHAN_”KENYAMANAN”



Apa kabar sahabat…..?
semoga sapaan hari ini tidak berbau basi yach….. :-)
*****_______________________________________________*****
Tak terasa ramadhan semakin ke ujung,,,sudah berlalu dua pekan kita menjalani puasa menahan rasa haus, lapar, emosi dan de el  el.
Bagaimana puasa sahabat hari ini? lancarkah ? full kah atau sudah bolongkah ? kalau berbicara tentang full atau bolong tentunya sahabat tahu ini salah satu istilah yang gag terlepas dari perempuan, salah satu anugerah yang Allah berikan bagi semua perempuan untuk free alias Gag Puasa Selama Seminggu dan akhirnya meninggalkan istilah bolong puasa dech
***____________________________________________***
Hari ini puasa ke tujuh bagiku. Seperti biasa sahabat, alhamdulillah puasa tahun ini terasa lebih santai tidak seperti puasa tahun sebelumnya. Mungkin karena terbiasa membiasakan diri untuk melebur ke dalam puasa senin kamis kali ya jadi perutku beradaptasi dengan sebaik-baiknya di Ramadhan ini. Bisa dikatakan perutku cukup fleksibel, kalau terbangun bisa sahur  Alhamdulillah, kalau tidak terbangun untuk sahur juga Alhamdulilllah karena akhirnya puasanya juga terasa sama. Sama-sama sampai ke waktu berbuka hehehe
Berbicara tentang puasa sahabat pasti tahukan pokok inti dari berpuasa adalah MENAHAN …
Lantas menahan yang bagaimana yang Allah anjurkan??
jawabannya,,, menahan dari segala hal yang dapat membatalkan puasa. Semisalnya makan, minum, selain itu kita juga harus menahan semua emosi-emosi kita, menahan atau “STOP” untuk Gosip, Ghibah atau istilah yang sejenisnya.
Bukankah kita sering sekali diingatkan oleh ustadz-ustadz, bahwa ketika kita berpuasa jangan biarkan amalan puasa kita itu hanya berbuah menahan haus dan lapar.
Contoh ringannya ketika kita berpuasa namun mulut kita asyik untuk mengGhibah orang lain, noh itu salah satu yang akan mengurangi amalan pahala kita loh…..apalagi kalau seharian penuh ghibah, bisa-bisa yang mulanya pahala menjadi dosa dan akhirnya hanya menyisakan rasa lapar dan dahaga. Sahabat tentunya gag mau kan capek-capek puasa tapi gag dapat pahala??
Solusinya “innamal a`maalu binniyyaati”
Lalu kembali ke niat semula kita,,, apakah kita ingin tahun ini lebih buruk atau ramadhan tahun ini lebih baik ?? it’s simpel semua tergantung kepada niatan sahabat semua.. Ayo yang naitannya masih salah kita luruskan yuk,,,,semoga Ramadhan kita, ramadhan keluarga kita selalu berkah, dan terbaik. Mengapa? karena sekali lagi kita diingatkan, bahwa usia kita hanya Allah yang tahu. Barang kali Ramadhan selanjutnya sudah “Say Good Bye” dari kita dan keluarga kita. Oleh karena itu mari kita jadikan Ramadhan tahun ini ramadhan yang terbaik dan semoga Allah hapuskan dosa-dosa kita yang telah lalu maupun yang akan datang. aamiiin

Tema Cerita Ramadhan kali ini tentang “Kenyamanan”
Nah,,,,,sahabat mulai binggung ya? mulai dech garuk-garuk kepala yang aslinya gag gatal itu.
Hmmm,,, cerita ini muncul ketika ku temui bahwa pada kenyataannya dalam sebuah pertemanan bukan hanya memperhatikan soal caring tetapi juga tentang hal comfortable…alias Kenyamanan.
sahabatku…tentunya punya sahabat, teman atau kawan karib yang selama ini bersamai kita bukan? lalu apa sebenarnya yang menjadi tolak ukur kita menganggap mereka sebagai sahabat kita, menganggap yang sebagian sebagai musuh kita?? dalam hal ini tentunya setiap orang memiliki privasi jawabannya.
Bagiku,,,memilih sebuah teman dekat perlu memperhatikan hal kenyamanan dan pastinya juga pemahaman. Aku atau dia harus saling memahami karakter kita yang berbeda, aku atau dia harus bisa saling memberi kenyamanan. Tidak cukup untuk hanya berbicara tentang pemahaman, toh sosok “Kawand Biasa” juga bisa lebih memahami kondisi kita dalam timing yang tertentu. Lain hal dengan sebuah kata kenyamanan….
Kita sering melihat sekelompok ABG bergenk dengan status ekonomi yang berbeda, ada juga kita melihat genk yang bersosialita,, semuanya hal pribadi masing-masing kita mau berteman dengan yang kaya atau yang miskin karena bukan tentang kaya atau miskinnya tetapi terletak seberapa nyaman, dan seberapa kita percaya kepada dia.

Sahabat…
sekali lagi islam mengajarkan istilah Ukhuwah Islamiyah, yaitu ukhuwah yang dilandaskan atas persamaan akidah. Begitu sempurnanya islam dalam mengatur sendi-sendi kehidupan kita. Tidak hanya tentang dunia politik, ekonomi tetapi dunia sosial kita pun islam mengaturnya sedemikian rupa. Ukhuwah,,, artinya persaudaraan, persaudaraan yang tidak dilandaskan oleh keturunan darah tetapi pada akidah. Selagi akidah kita benar berpegang kepada Alquran & Al-hadist maka hubungan pertemanan kita berlandaskan ukhuwah islamiyah.

Lalu bagaimana jika kita memiliki sahabat namun kita tak menemukan kenyamanan saat bersamanya? atau dengan kata lain aku sebagai seorang akhwat berasa lebih nyaman ketika bersama dan berkumpul bersama “Kawand Amah”, yang jilbabnya polos tidak seperti jilbabku yang menjuntai-juntai terkibas oleh angin?.
Kembali lagi bahwa ternyata jawabannya terkait hal Kenyamanan.

Ini kutemukan ketika sore ini ku amati dua sosok sahabat yang sejurusan denganku, semua teman angkatan tentunya sudah kenal dengan pertemanan yang kami jalin. Bisa dikatakan kumpulan akhwat-akhwat 2012. Hadir kajian bersama, berorganisasi sama, membahas dan memiliki objek dakwah sama juga NAMUN kini berjarak, merenggang seperti pegas yang tak lentur kembali sulit untuk dipaksakan dirapatkan kembali seperti semula. Satu sama lain saling berdiam. Kedua-duanya dalam kondisi berhubungan baik denganku. Sepertinya aku jadi sosok tokoh tritagonis diantara dua pemeran utama ini,
Aku pun binggung mengapa si A jarang berkunjung ke kamar si B, padahal biasanya mereka saling bersebelahan dan selalu bertemu. Dan si A lebih suka berkunjung ke kamar si C. Aku pun demikian, akhir-akhir ini lebih bersilaturahmi ke kamar si C. Namun aku tetap menyempatkan untuk menyapa kamar sahabatku si “B” dan si”D”. Dalam hal ini aku sedang dalam kondisi “Good Relationship”.

Dan kini baru aku tahu, meskipun kami satu misi, satu amanah, satu pengajian atau sama-sama sudah dalam kategori paham dalam hal tarbiyah tetapi ternyata kami kurang dalam hal saling memahami dan saling memberi kenyaman. Selama ini kami tertawa, bercerita, merapat ala kadarnya saja, dan tidak kami sertai rasa pemahaman yang baik satu sama lain. Kami belum mampu membaca karater satu sama lain, kami seperti lakon yang memerankan dialognya ketika ada scene. Kami terlihat bersama ketika ada rutinitas yang sengaja mempertemukan kami dalam satu lingkaran.

Sahabatku,,,,aku cukup menjadi tritagonis yang akan mengamati gerak-gerik kalian. Meskipun mulutku telah berusaha menyatukan kalian tetapi hanya kalian yang mampu merajut ukhuwah itu kembali. Sahabatku,,,, ilmu kita, majelis-majelis ilmu yang kita hadiri saja ternyata tidak cukup untuk mendewasakan kita satu sama lain. Kita masih perlu belajar, belajar bagaimana bersikap, belajar bagaimana menghargai kesibukan orang lain, belajar bagaimana berbicara dalam kondisi yang tidak akan menyakitkan saudara-saudara kita, kita juga masih perlu belajar bahwa ada waktu “Me time” atau “Our Time”, Kita harus belajar bagaimana cara yang baik untuk mendamaikan saudara-saudara kita yang saling bertikai, kita harus belajar bagaimana saling maaf dan memaafkan, kita juga harus saling belajar memberi kenyamanan.

Bagiku, dan menurut hati yang semoga tak menutupi arti kebenaran ini, mengapa aku sering berkunjung ke si “C” karena aku temukan kenyamanan yang lebih daripada saat kita berkumpul. Karena sosoknya yang lembut, sosoknya yang fleksibel dalam mengontrol emosinya, tak mudah marah, tak suka mencampuri orang lain, dan selalu menjadi penenang ketika aku gelisah. Ia memberikan kenyamanan ketika berbicara, keteduhan emosinya mengajarkan aku untuk mulai belajar agar menjadi pribadi yang lembut dan tak garang, hatinya yang tak mudah sakit hati mengajarkan aku untuk menjadi sosok sepertinya yang mudah sekali memaafkan orang lain. Bagiku “si C” cukup memberiku dan mengajarkan aku arti-arti bersosial. Maaf ukhti bukan meremehkan jiwa sosial mu, tetapi kejadian hari ini menjadi bukti bahwa emosi kita telah berhasil merusak arti kenyamanan yang ku rasakan atau yang si “B” rasakan. Mulut kita masih belum terkontrol dalam berbicara, sekali lagi aku sempat menggerutu mengapa kita yang tertarbiyah tetapi masih susah mengontrol emosi kita dan akhirnya mulutku bersuara kecil “puasa adalah waktu kita untuk menahan amarah dan berbudi mulia ukhti”. Dan hal ini yang memulaikan aku untuk mengatakan hal yang demikian “Yang Paham Harap Memaafkan”.

Sekali lagi ukhti “A”, “B” atau Ukhtiku si “D” kita perlu belajar dari si “C”. Kita perlu belajar dari dunia luar, kita perlu belajar dari mereka-mereka yang kita sebut “AMAH”, karena tak salah belajar dari siapapun. Karena terkadang si kecil pun mampu menyadarkan si besar.

To me & Ukhti-Ukhtiku
Hari ini aku tahu bahwa…
Jilbab panjangku, gamis kembangku, rutinitas Liqoku, Rutinitas majelis ilmu yang ku hadiri ternyata masih kurang merubah sosok kita. Sosok kita yang diluarnya dikatakan paham tetapi di dalamnya kita sangat jauh dari arti paham tersebut. Sosok yang di luar terlihat menawan, terlihat sholehah namun ternyata masih jauh dari kesempurnaan tersebut.
Hari ini aku tahu bahwa….
Seharusnya tarbiyah ku menjadi Perubahan kepribadianku. Namun aku baru sadar tarbiyah tanpa disertai kesadaran diri juga berbuah NIHIL. Hal ini begitu jelas sekali bagaimana Allah menggambarkan kepada kita dalam surat Ar-ra’d :11
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”
Na’udzubilllahi min dzalik…semoga kita dijauhkan dari sifat fasik dan munafik
dan Hari ini aku tahu bahwa…..
kita masih harus “IQRA”
Membaca dari dunia nyata, membaca dari tanda-tanda kekuasaanya serta membaca dari makhluk-makhluknya. Dan Membaca bahwa Allah meminta kita untuk menjadi umat yang terbaik dan beriman.

                                                                                                                                                                                                                         Alone at Bedroom, 20 juni 2016 (00:12)

Tidak ada komentar: