Apa kabar
sahabat…..?
semoga
sapaan hari ini tidak berbau basi yach….. :-)
*****_______________________________________________*****
Tak terasa
ramadhan semakin ke ujung,,,sudah berlalu dua pekan kita menjalani puasa
menahan rasa haus, lapar, emosi dan de el
el.
Bagaimana
puasa sahabat hari ini? lancarkah ? full kah atau sudah bolongkah ? kalau
berbicara tentang full atau bolong tentunya sahabat tahu ini salah satu istilah
yang gag terlepas dari perempuan, salah satu anugerah yang Allah berikan bagi
semua perempuan untuk free alias Gag Puasa Selama Seminggu dan akhirnya
meninggalkan istilah bolong puasa dech
***____________________________________________***
Hari ini
puasa ke tujuh bagiku. Seperti biasa sahabat, alhamdulillah puasa tahun ini
terasa lebih santai tidak seperti puasa tahun sebelumnya. Mungkin karena
terbiasa membiasakan diri untuk melebur ke dalam puasa senin kamis kali ya jadi
perutku beradaptasi dengan sebaik-baiknya di Ramadhan ini. Bisa dikatakan
perutku cukup fleksibel, kalau terbangun bisa sahur Alhamdulillah, kalau tidak terbangun untuk
sahur juga Alhamdulilllah karena akhirnya puasanya juga terasa sama. Sama-sama
sampai ke waktu berbuka hehehe
Berbicara
tentang puasa sahabat pasti tahukan pokok inti dari berpuasa adalah MENAHAN …
Lantas
menahan yang bagaimana yang Allah anjurkan??
jawabannya,,,
menahan dari segala hal yang dapat membatalkan puasa. Semisalnya makan, minum,
selain itu kita juga harus menahan semua emosi-emosi kita, menahan atau “STOP”
untuk Gosip, Ghibah atau istilah yang sejenisnya.
Bukankah
kita sering sekali diingatkan oleh ustadz-ustadz, bahwa ketika kita berpuasa
jangan biarkan amalan puasa kita itu hanya berbuah menahan haus dan lapar.
Contoh
ringannya ketika kita berpuasa namun mulut kita asyik untuk mengGhibah orang
lain, noh itu salah satu yang akan mengurangi amalan pahala kita loh…..apalagi
kalau seharian penuh ghibah, bisa-bisa yang mulanya pahala menjadi dosa dan
akhirnya hanya menyisakan rasa lapar dan dahaga. Sahabat tentunya gag mau kan
capek-capek puasa tapi gag dapat pahala??
Solusinya “innamal a`maalu binniyyaati”
Lalu
kembali ke niat semula kita,,, apakah kita ingin tahun ini lebih buruk atau
ramadhan tahun ini lebih baik ?? it’s simpel semua tergantung kepada niatan
sahabat semua.. Ayo yang naitannya masih salah kita luruskan yuk,,,,semoga
Ramadhan kita, ramadhan keluarga kita selalu berkah, dan terbaik. Mengapa?
karena sekali lagi kita diingatkan, bahwa usia kita hanya Allah yang tahu.
Barang kali Ramadhan selanjutnya sudah “Say Good Bye” dari kita dan keluarga
kita. Oleh karena itu mari kita jadikan Ramadhan tahun ini ramadhan yang
terbaik dan semoga Allah hapuskan dosa-dosa kita yang telah lalu maupun yang
akan datang. aamiiin
Tema Cerita
Ramadhan kali ini tentang “Kenyamanan”
Nah,,,,,sahabat
mulai binggung ya? mulai dech garuk-garuk kepala yang aslinya gag gatal itu.
Hmmm,,,
cerita ini muncul ketika ku temui bahwa pada kenyataannya dalam sebuah
pertemanan bukan hanya memperhatikan soal caring tetapi juga tentang hal
comfortable…alias Kenyamanan.
sahabatku…tentunya
punya sahabat, teman atau kawan karib yang selama ini bersamai kita bukan? lalu
apa sebenarnya yang menjadi tolak ukur kita menganggap mereka sebagai sahabat
kita, menganggap yang sebagian sebagai musuh kita?? dalam hal ini tentunya
setiap orang memiliki privasi jawabannya.
Bagiku,,,memilih
sebuah teman dekat perlu memperhatikan hal kenyamanan dan pastinya juga
pemahaman. Aku atau dia harus saling memahami karakter kita yang berbeda, aku
atau dia harus bisa saling memberi kenyamanan. Tidak cukup untuk hanya
berbicara tentang pemahaman, toh sosok “Kawand Biasa” juga bisa lebih memahami
kondisi kita dalam timing yang tertentu. Lain hal dengan sebuah kata
kenyamanan….
Kita sering
melihat sekelompok ABG bergenk dengan status ekonomi yang berbeda, ada juga
kita melihat genk yang bersosialita,, semuanya hal pribadi masing-masing kita
mau berteman dengan yang kaya atau yang miskin karena bukan tentang kaya atau
miskinnya tetapi terletak seberapa nyaman, dan seberapa kita percaya kepada
dia.
Sahabat…
sekali lagi
islam mengajarkan istilah Ukhuwah Islamiyah, yaitu ukhuwah yang dilandaskan
atas persamaan akidah. Begitu sempurnanya islam dalam mengatur sendi-sendi
kehidupan kita. Tidak hanya tentang dunia politik, ekonomi tetapi dunia sosial
kita pun islam mengaturnya sedemikian rupa. Ukhuwah,,, artinya persaudaraan,
persaudaraan yang tidak dilandaskan oleh keturunan darah tetapi pada akidah.
Selagi akidah kita benar berpegang kepada Alquran & Al-hadist maka hubungan
pertemanan kita berlandaskan ukhuwah islamiyah.
Lalu
bagaimana jika kita memiliki sahabat namun kita tak menemukan kenyamanan saat
bersamanya? atau dengan kata lain aku sebagai seorang akhwat berasa lebih
nyaman ketika bersama dan berkumpul bersama “Kawand Amah”, yang jilbabnya polos
tidak seperti jilbabku yang menjuntai-juntai terkibas oleh angin?.
Kembali
lagi bahwa ternyata jawabannya terkait hal Kenyamanan.
Ini
kutemukan ketika sore ini ku amati dua sosok sahabat yang sejurusan denganku,
semua teman angkatan tentunya sudah kenal dengan pertemanan yang kami jalin.
Bisa dikatakan kumpulan akhwat-akhwat 2012. Hadir kajian bersama, berorganisasi
sama, membahas dan memiliki objek dakwah sama juga NAMUN kini berjarak,
merenggang seperti pegas yang tak lentur kembali sulit untuk dipaksakan
dirapatkan kembali seperti semula. Satu sama lain saling berdiam. Kedua-duanya
dalam kondisi berhubungan baik denganku. Sepertinya aku jadi sosok tokoh
tritagonis diantara dua pemeran utama ini,
Aku pun
binggung mengapa si A jarang berkunjung ke kamar si B, padahal biasanya mereka
saling bersebelahan dan selalu bertemu. Dan si A lebih suka berkunjung ke kamar
si C. Aku pun demikian, akhir-akhir ini lebih bersilaturahmi ke kamar si C.
Namun aku tetap menyempatkan untuk menyapa kamar sahabatku si “B” dan si”D”. Dalam
hal ini aku sedang dalam kondisi “Good
Relationship”.
Dan kini
baru aku tahu, meskipun kami satu misi, satu amanah, satu pengajian atau
sama-sama sudah dalam kategori paham dalam hal tarbiyah tetapi ternyata kami
kurang dalam hal saling memahami dan saling memberi kenyaman. Selama ini kami
tertawa, bercerita, merapat ala kadarnya saja, dan tidak kami sertai rasa pemahaman
yang baik satu sama lain. Kami belum mampu membaca karater satu sama lain, kami
seperti lakon yang memerankan dialognya ketika ada scene. Kami terlihat bersama
ketika ada rutinitas yang sengaja mempertemukan kami dalam satu lingkaran.
Sahabatku,,,,aku
cukup menjadi tritagonis yang akan mengamati gerak-gerik kalian. Meskipun
mulutku telah berusaha menyatukan kalian tetapi hanya kalian yang mampu merajut
ukhuwah itu kembali. Sahabatku,,,, ilmu kita, majelis-majelis ilmu yang kita
hadiri saja ternyata tidak cukup untuk mendewasakan kita satu sama lain. Kita
masih perlu belajar, belajar bagaimana bersikap, belajar bagaimana menghargai
kesibukan orang lain, belajar bagaimana berbicara dalam kondisi yang tidak akan
menyakitkan saudara-saudara kita, kita juga masih perlu belajar bahwa ada waktu
“Me time” atau “Our Time”, Kita harus
belajar bagaimana cara yang baik untuk mendamaikan saudara-saudara kita yang
saling bertikai, kita harus belajar bagaimana saling maaf dan memaafkan, kita
juga harus saling belajar memberi kenyamanan.
Bagiku, dan
menurut hati yang semoga tak menutupi arti kebenaran ini, mengapa aku sering
berkunjung ke si “C” karena aku temukan kenyamanan yang lebih daripada saat
kita berkumpul. Karena sosoknya yang lembut, sosoknya yang fleksibel dalam
mengontrol emosinya, tak mudah marah, tak suka mencampuri orang lain, dan
selalu menjadi penenang ketika aku gelisah. Ia memberikan kenyamanan ketika
berbicara, keteduhan emosinya mengajarkan aku untuk mulai belajar agar menjadi
pribadi yang lembut dan tak garang, hatinya yang tak mudah sakit hati
mengajarkan aku untuk menjadi sosok sepertinya yang mudah sekali memaafkan
orang lain. Bagiku “si C” cukup memberiku dan mengajarkan aku arti-arti
bersosial. Maaf ukhti bukan meremehkan jiwa sosial mu, tetapi kejadian hari ini
menjadi bukti bahwa emosi kita telah berhasil merusak arti kenyamanan yang ku
rasakan atau yang si “B” rasakan. Mulut kita masih belum terkontrol dalam
berbicara, sekali lagi aku sempat menggerutu mengapa kita yang tertarbiyah
tetapi masih susah mengontrol emosi kita dan akhirnya mulutku bersuara kecil “puasa
adalah waktu kita untuk menahan amarah dan berbudi mulia ukhti”. Dan hal ini
yang memulaikan aku untuk mengatakan hal yang demikian “Yang Paham Harap
Memaafkan”.
Sekali lagi
ukhti “A”, “B” atau Ukhtiku si “D” kita perlu belajar dari si “C”. Kita perlu
belajar dari dunia luar, kita perlu belajar dari mereka-mereka yang kita sebut “AMAH”, karena tak salah belajar dari
siapapun. Karena terkadang si kecil pun mampu menyadarkan si besar.
To me &
Ukhti-Ukhtiku
Hari ini
aku tahu bahwa…
Jilbab
panjangku, gamis kembangku, rutinitas Liqoku, Rutinitas majelis ilmu yang ku hadiri
ternyata masih kurang merubah sosok kita. Sosok kita yang diluarnya dikatakan
paham tetapi di dalamnya kita sangat jauh dari arti paham tersebut. Sosok yang
di luar terlihat menawan, terlihat sholehah namun ternyata masih jauh dari
kesempurnaan tersebut.
Hari ini
aku tahu bahwa….
Seharusnya
tarbiyah ku menjadi Perubahan kepribadianku. Namun aku baru sadar tarbiyah
tanpa disertai kesadaran diri juga berbuah NIHIL. Hal ini begitu jelas sekali
bagaimana Allah menggambarkan kepada kita dalam surat Ar-ra’d :11
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan
diri mereka sendiri”
Na’udzubilllahi
min dzalik…semoga kita dijauhkan dari sifat fasik dan munafik
dan Hari
ini aku tahu bahwa…..
kita masih
harus “IQRA”
Membaca
dari dunia nyata, membaca dari tanda-tanda kekuasaanya serta membaca dari
makhluk-makhluknya. Dan Membaca bahwa Allah meminta kita untuk menjadi umat
yang terbaik dan beriman.
Alone
at Bedroom, 20 juni 2016 (00:12)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar