Senin, 18 Mei 2015

“KULIAH ITU PELAJARAN BUKAN HARTA”





Sudah 3 hari aku dirumah, sengaja meliburkan aktivitas kuliah ku. Sengaja menenangkan pikiranku yang sumpek dengan segudang materi kuliah yang mmebuat kepalaku memberontak meminta libur untuk sejenak mendinginkan dan merefresh kesegaran otak agar aliran darah ini kembali mengalir lancer dan kembali mengisi energy-energi baru yang akan menghasilkan ide-ide cemerlang.
Seperti yang sudah ku duga, kepulanagna ku kali ini benar-benar telah dinanti, disambut denagn senyuman ibu ku, kakak dan keponankan ku. Mungkin inilah ungkapan yang mampu mereka lontarkan dari wajah mereka setelah hampir 5 bulan kurang tidak bertemu dan bertatap wajah.
Tangan kosong mungkin akan mengecewakan mereka. Alhamdulillah aku telah menyaipakn sedikitnya oleh-oleh dari pekanbaru untuk keluargaku, bukan oleh-oleh yang mahal sekedar 2 kotak brownies cokelat dengan harga yang miring yaitu Rp 13.990. prinsip ku tidak perlu mahal asal kita datang denagn tangan ikhlas memberikan kepada mereka pasti mereka kan senang sekali.
Satu pelajaran yang dapat aku petik “ kebahagian itu tidak perlu dicapai atau diwujudkan denagn sesuatu yang berniali mahal sekali, namun denagn harga yang semurah-murahnya dan keikhlasan tulus dari hati kita itu lebih bermakna dan bernilai”

Banyak nuansa yang berebda yang kuraskana,,udara subuh hari yang begitu dingin berbeda dengan kota pecan baru yang tak pernah mengenal siang dan malam selalu menggerahkan tubuhku bahkan sleimut bagai tak pernah ku kenakan sewaktu tidur. Kipas angin pun terasa tak cukup untuk menyejukkan udara yang begitu menggerahkan bahkan terkadang aku tertidur di lantai tanpa alas apapun.
Masakan ibu yang enak, kejahilan dan kelincahan keponakkan ku yang membuat ku tak berhenti tertawa. Semuanya begitu terasa nyata sekarang ini. Nyata didepanku nyata ku rasakan bukan seperti mimpi kerinduan yang kutahan berbulan-bulan lamanya.

Seperti biasa, sengaja kau bawa semua tugas-tugas kuliah, berharap dapat ku kerjakan di rumah selagi ada waktu luang namun alhasil semuanya tersimpan di niatan saja. Tak satupun kuselesaikan diisni, membuka laptop pun ku enggan asyik bercengkrama dengan nuansa kekeluargaan yang meleburkan semua gelak tawaku, meleburkan waktu ku hingga tanpa sadar waktu terkadang sudah sore dan berakhir dimalam semuanya ku lalui tanpa sadar.

Seperti hari ini., hari sabtu hari kedua berada dikampung seseorang tetangga sengaja bertamu kerumah mengobrol dengan ku seputar putrinya yang usianya tidak jauh berbeda denganku , mungkin berbeda 1 tahun atau hanya beberapa bulan saja.
Ia bercerita panjang lebar tentang semangat putrinya yang ingin kuliah, namun dana yang tidak ada. seperti inilah kehidupan masyarakat desa, bisa makan itu sudah syukur sekali. Orang tua man ayang tidak ingin melihat anaknya sukses dengan gelar dibelakangnya dengan sederatan prestasi di belakang namany ayang akan mengangakt derajat keluarganya.
Aku hanya bisa menganggukan kepalaku sebagai tanda aku menjadi pendengar yang baik untuk setiap cerita-ceritanya. Seperti inilah penilaian masyarakat desa mereka terlalu berharap dengan terlalu kolot dalam hal pandangan. Bagi mereka Kuliah itu akan membuat anak nya hidup sukses alias kaya harta, intinya kuliah selama ini ditujukkan untuk merubah nasib semata. Bagi mereka orang yang kuliah pasti akan segera kaya.
Inialh nasehat dan tanggapan ku kepada ibu tersebut juga kepada orang tuaku,
“ Kuliah itu untuk menuntut ilmu, kaya atau miskinnya seseorang itu bergantung pada dirinya sendiri. Rajin atau malas kah ia bekerja, berusaha dan meminta kepada Allah yang menjadi penentu kesuksesan dia kelak. Maka janganlah terlalu meminta kepada sang anak untuk menjadi orang kaya ketika ia telah kuliah, bangku kuliah adalah wadah ia menuntut ilmu, wadah proses yang akan mengubah pola pikirnya menajdi lebih dewasa, yang semula hanya memikirkan dirinya kini beralih menjadi bagaimana untuk memikirkan keluarga, memikirkan masa depannya. Yang dengan pola piker inilah yang membuatnya memiliki sutau tekad untuk menjadi yang lebih baik, maka tak jarang kita temua mereka yang kuliah ada ynag sukses dengan begitu cepa, ketika selesai wisuda langsung mendapatkan jabatan yang bagus, bahkanjuga kita temua mereka yang kulaih namun tak berpenghasilan apa-apa atau bahkan melenceng dari jurusna yang mereka minati. “
Maka kembali lagi sya katakana personal kitalah yang menentukan kesuksesan kita, kita kuliah pun tetapi jika kita sendiri tidak memiliki usaha untuk maju maka hasilnya sama dengan nol
Seperti rumus fisika
W= F.s = 0
Gaya yang kita lakukan atau niatan yang kuat namun tidak disertai dengan kerja (gerak) yang nyata sama dengan angan-angan belaka.
Maka sejatinya usaha yang maksimal itu adalah ketika kita memiliki niat atau dorongan dalam hal ini kita anggap sebagai sebuah gaya (F) serta kita lakukan dengan terus-terus bergerak sehingga kita mengalami perubahan posisi setahap-setahap (S) maka hasil yang indahlah pada akhirnya.
Dan Alhamdulillah sejak aku berikan gambaran seperti itu ibuku berubah dalam hal pandangan, ia tidak pernah menuntut kami ini itu.
Ya  sejatinya kuliah itu tempat ilmu bukan temapt mencari hara,,,jikalau kita ingin kesuksesan itu kita lah yang harus membuka gerbang dan gembok suskes itu, kuliah hanyalah salah satu fasilitas yang akan mengahntarkan dan melancarkan jalanmu

Aku sangat bersyukur bisa merasakan bangku perkuliahan ini, karena dengan pemikiran masyarakat yang minim, daya tarik untuk kuliah yag kecil membut ku harus menampilkan sesuatu yang beda. Kami ynag bisa kuliah memiliki tugas utamauntuk mencerdaskan dan memberikan pengajaran kepada mereka yang tidak pernah mengemban bangku perkuliahan. Kau tidak ingin gadis belia usia 13-15 tahun yang baru mendapatkan ijazahnya keesokkan harinya langsung mendapatkan formulir pernikahan. Miris terkadang, ya inilah kenyatana dari sebuah kehidupan. Ketika ada yang kaya pasti ada juga yanga miskin, ketika ada yang mampu kuliah pasti ada juga yang susah untuk kuliah dan ujung-ujungnya berakhir diusia muda berdiri dipelaminan dan menggendong seorang baby kecil.
Hmm,,,hidup terkadang terlalu mudah untuk di gambarkan bagi orang-orang desa, yang penting sudah sekolah kalau tidak ada mampu lagi ya menikah.
Padahal jika dipikirkna banyak sekali rahasia kesuksesan yang belum sempat kita buka, setiap orang punya pintu kesuksesan masing-masing maka sedih sekali jika kita tidak pernah memikirkannay
 Pernahkah kita berpikir dalam merenungi nasib kita
“bagaimana ya kehidupanku kelak ??”
“ apa ya usaha yang bisa ku lakukan aunatuk merubah nasibku yang pas-pasan begini ?”
“ hmmm,,,,,kerja apa ya yang bisa aku hasilkan untuk membantu keekonimoan keluarga?”
 Mungkin hanya bebrapa orangyang sempat terlintas pikiran kecil ini.
Semoga saja keberadaan aku bersama saudar-saudara ku yang mampu mengenyam bangku perkuliahan ini mampu memberikan inspirasi dan merubah pandagan seluruh orang desa. Karena sejatinya hanya dnegan ilmu kita kan bahagi dunia dan akhirat
Aku jadi terinat sebuah hadist yang mengatakan
“ Barang siapa yang ingin bahagia Dunia maka hendaklah berilmu”
“ barang siapa yang ingin bahagia Akhirat hendaklah dengan ilmu “
“ dan barang siapa yang ingin bahagia dunia dan Akhirat juga hendaklah denagn ilmu “
“ bukankah Allah juga sudah mempertegas dalam Qs. Al- Mujadalh ayat 11
“ allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu lebih tinggi
Maka tuntulah ilmu dari siapapun, dimanapun,,,,selagi kita mampu. Ilmu tidak pernah memandnag usia dan masa…

Tidak ada komentar: