Jumat, 29 Januari 2016

Salam Rindu Yah,,,,


 
Hari ini ayah tahu….apa yang aku lalui?
Hari ini ayah lihat senyumku?? Kejahilan-kejahilan yang biasa aku lakukan ??
Oh aku baru ingat ayah sedang tak disisiku,, ayah disana diujung bumi yang lain. Begitu pula aku diujung sisi bumi yang lain pula.
Tetapi aku yakin,,,,kita tetap satu. Satu dalam ikatan darah, satu dalam ikatan keluarga, satu dalam ikatan bathin, satu dalam ikatan iman dan serta satu dalam setiap doa-doa. Aku percaya ada namaku dalam setiap bait-bait doa ayah dan aku pun demikian tak lupa ku selipkan nama ayah disetiap doa sujudku dan doa seusia shalatku. Bahkan ketika hujan pun turun aku sematkan dan kutitipkan salamku pada curahan air hujan yang menguyur bumi dengan derasnya. Karena aku tahu bahwa diwaktu hujan adalah salah satu waktu terkabulnya doa.
Ayah,,,entah mengapa kerinduhan ini begitu kuat untukmu??
Ini bukan tentang aku tak merindukan ibu, tak merindukan adik-adik, tak merindukan kakak dan abang bahkan tak merindukan keponakanku yang baru berusia 4 tahun di tanggal 17 januari ini.
Ini bukan tentang pembagian rasa rinduku yang lebih banyak kepadamu. Aku pun binggung bagaimana harus mengutarakan. Bagaimana harus mengkalkulasikan rasa rinduku padamu. Apakah rasa rinduku lebih banyak kepadamu atau kepada yang lain, apakah rasa rinduku kepadamu lebih besar dari rasa rinduku kepada saudara-saudaraku yang lain.

Ayah ,,,aku pun binggung. Aku bukan kalkulator hati yang mampu menghitung perbandingan rasa kerinduanku ini, aku juga bukan sang sutradara yang ahli dalam mengatur setiap plot-plot adegan hatiku untuk memanagement waktu, kapan waktunya rinduku harus ke ibu, ke saudaraku dan kepadamu.
Aku hanya gadis kecil ayah yang tahu bawa hatiku ini ternyata sang perasa. Ia bisa merasakan kapan aku jatuh cinta, kapan aku sedih, kapan aku haru, kapan aku terluka juga seperti ini saat aku merindu padamu. Aku sempat berpikir dan sadar, siapa yang mampu menciptakan ini untukku, untuk kita ?? kalau bukan ia sang Rabb, sang pemilik kasih sayang, sang pemilik pintu ampunan dan sang Pemilik segalanya. Dan tentunya ia yang pemilik hati-hati kita.
Ia yang mampu membolak-balikkan hati kita. Maka ayah jika diperkenankan, dan jika diizinkan untuk bersikap egois aku ingin meminta kepada-Nya untuk selalu menuntun hatiku untuk selalu merasakan kebahagian itu. Aku takut ayah,,,aku takut jika harus terluka, aku takut untuk merasakan air mata, aku takut. Aku takut aku tak mampu menguasai hatiku untuk kembali tegar. Oleh karena itu aku berdoa kepada sang pembolak balik hati ini untuk selalu menyimpan rasa dan menghadirkan rasa sayang dan rasa rindu untuk kita semua, untuk ayah my hero, untuk ibu, untuk saudara-saudaraku.
****
Bintang-bintang dilangit semakin hilang diatas sana, mungkin ini kode untuk aku segera memejamkan mata dan beranjak dari lamunan-lamunanku akan dirimu. Sebelum ku tutup lamunanku izinkan aku bertanya lewat imajinasiku ke ayah semoga kita saling bertelepati harapku.
“Hai ayah,,,,sudah tidur???” Masih belum ku temukan mengapa namamu yang lebih besar aku ingat akhir-akhir ini disetiap waktuku??
“Ayah,,,,ah,,,,,aku benar-benar merindukanmu sepertinya?”
“Ayah,,,,,kira-kira berapa lama aku sudah tak berjumpa denganmu??”Aku pikir ini baru 2 minggu sejak kepulangan terakhirku,,,waktu yang tidak terlalu lama. Tetapi mengapa salam rinduku tak sabar untuk segala dilepaskan, dipanahkan ke sasaran yang tepat.
“Ayah,,,,aku benar-benar Merindukan”
Sekali lagi ayah “ ini Salam rinduku Untukmu dimalam ini”
Salam rindu dari putrimu,,salam rindu yang hadir dimalam-malamku yang sepi.
Salam rindu untukmu “Selamat tidur ayah, semoga bangunmu esok pagi diiringi dengan senyum indah”
Good night ayah,,,,,”salam rindu dari kota rantauanku”
Please always smile to me

                                                                                                Pekanbaru, 28 Januari 2016
                                                                                                Di sudut kamar rantauan kotaku


Tidak ada komentar: