Hari ini ayah tahu….apa yang aku lalui?
Hari ini ayah lihat senyumku?? Kejahilan-kejahilan
yang biasa aku lakukan ??
Oh aku baru ingat ayah sedang tak disisiku,, ayah
disana diujung bumi yang lain. Begitu pula aku diujung sisi bumi yang lain
pula.
Tetapi aku yakin,,,,kita tetap satu. Satu dalam
ikatan darah, satu dalam ikatan keluarga, satu dalam ikatan bathin, satu dalam
ikatan iman dan serta satu dalam setiap doa-doa. Aku percaya ada namaku dalam
setiap bait-bait doa ayah dan aku pun demikian tak lupa ku selipkan nama ayah
disetiap doa sujudku dan doa seusia shalatku. Bahkan ketika hujan pun turun aku
sematkan dan kutitipkan salamku pada curahan air hujan yang menguyur bumi dengan
derasnya. Karena aku tahu bahwa diwaktu hujan adalah salah satu waktu
terkabulnya doa.
Ayah,,,entah mengapa kerinduhan ini begitu kuat
untukmu??
Ini bukan tentang aku tak merindukan ibu, tak
merindukan adik-adik, tak merindukan kakak dan abang bahkan tak merindukan
keponakanku yang baru berusia 4 tahun di tanggal 17 januari ini.
Ini bukan tentang pembagian rasa rinduku yang lebih
banyak kepadamu. Aku pun binggung bagaimana harus mengutarakan. Bagaimana harus
mengkalkulasikan rasa rinduku padamu. Apakah rasa rinduku lebih banyak kepadamu
atau kepada yang lain, apakah rasa rinduku kepadamu lebih besar dari rasa
rinduku kepada saudara-saudaraku yang lain.
Ayah ,,,aku pun binggung. Aku bukan kalkulator hati
yang mampu menghitung perbandingan rasa kerinduanku ini, aku juga bukan sang
sutradara yang ahli dalam mengatur setiap plot-plot adegan hatiku untuk
memanagement waktu, kapan waktunya rinduku harus ke ibu, ke saudaraku dan
kepadamu.
Aku hanya gadis kecil ayah yang tahu bawa hatiku ini
ternyata sang perasa. Ia bisa merasakan kapan aku jatuh cinta, kapan aku sedih,
kapan aku haru, kapan aku terluka juga seperti ini saat aku merindu padamu. Aku
sempat berpikir dan sadar, siapa yang mampu menciptakan ini untukku, untuk kita
?? kalau bukan ia sang Rabb, sang pemilik kasih sayang, sang pemilik pintu
ampunan dan sang Pemilik segalanya. Dan tentunya ia yang pemilik hati-hati
kita.
Ia yang mampu membolak-balikkan hati kita. Maka ayah
jika diperkenankan, dan jika diizinkan untuk bersikap egois aku ingin meminta
kepada-Nya untuk selalu menuntun hatiku untuk selalu merasakan kebahagian itu. Aku
takut ayah,,,aku takut jika harus terluka, aku takut untuk merasakan air mata,
aku takut. Aku takut aku tak mampu menguasai hatiku untuk kembali tegar. Oleh karena
itu aku berdoa kepada sang pembolak balik hati ini untuk selalu menyimpan rasa
dan menghadirkan rasa sayang dan rasa rindu untuk kita semua, untuk ayah my
hero, untuk ibu, untuk saudara-saudaraku.
****
Bintang-bintang dilangit semakin hilang diatas sana,
mungkin ini kode untuk aku segera memejamkan mata dan beranjak dari
lamunan-lamunanku akan dirimu. Sebelum ku tutup lamunanku izinkan aku bertanya
lewat imajinasiku ke ayah semoga kita saling bertelepati harapku.
“Hai ayah,,,,sudah tidur???” Masih belum ku temukan
mengapa namamu yang lebih besar aku ingat akhir-akhir ini disetiap waktuku??
“Ayah,,,,ah,,,,,aku benar-benar merindukanmu
sepertinya?”
“Ayah,,,,,kira-kira berapa lama aku sudah tak
berjumpa denganmu??”Aku pikir ini baru 2 minggu sejak kepulangan
terakhirku,,,waktu yang tidak terlalu lama. Tetapi mengapa salam rinduku tak
sabar untuk segala dilepaskan, dipanahkan ke sasaran yang tepat.
“Ayah,,,,aku benar-benar Merindukan”
Sekali lagi ayah “ ini Salam rinduku Untukmu dimalam
ini”
Salam rindu dari putrimu,,salam rindu yang hadir
dimalam-malamku yang sepi.
Salam rindu untukmu “Selamat tidur ayah, semoga
bangunmu esok pagi diiringi dengan senyum indah”
Good night ayah,,,,,”salam rindu dari kota
rantauanku”
Please always smile to me
Pekanbaru,
28 Januari 2016
Di
sudut kamar rantauan kotaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar