Sabtu, 25 Juni 2016

Ramadhan__"Biarkan Hati Memaafkan"

Sempat binggung ketika harus berbicara tentang Hati. Karena terkenalnya objek ini tentang hal yang berbau perasaan. Kembali lagi proyek menulis ramadhan ini harus diwarnai dengan hal yang berbau rasa dan akhirnya benar-benar terbawa kepada arus perasaanku sendiri...

sahabat...sering sekali kita merasakan namanya kecewa. Kecewa dengan kata-kata, kecewa dengan tingkah laku seseorang yang tanpa mereka sadarinya. Ada sebagian yang mampu menyembunyikan kecewanya dalam 1 hari, ada juga yang mampu memendam kecewanya sendirian hingga berminggu-minggu, dan alhasilnya kita sendiri yang merasakan susahnya. Karena menggunakan "emosi sesaat" itu sejatinya cukup melelahkan. Kita menyimpan kecewa, kita menyimpan amarah tetapi belum tentu seseorang yang disana menyadarinya atau memikirkan kesalahan yang telah diperbuatnya. Toh akhirnya perasaan kita sendiri yang akhirnya terluka,,, buang energi, pikiran negatif semakin timbul. So,,,,gunakan kesabaranmu untuk melahirkan hati yang jernih pada hal yang semestinya..

sahabat,,,,,
aku sempat kecewa dengan teman karibku, meskipun aku tahu bagaimana kelakukannya, bagaimana tutur katanya selama ini. Ku coba untuk tak menegurnya, berharap ia menyadari kesalahannya. Ku coba untuk tidak berkunjung ke rumahnya berharap ia menanyakan kemana pergiku. Tetapi kembali lagi aku menguras energi perasaanku untuk hal yang sia-sia karena apa yang aku ingin tak terjadi. Semakin aku diam,, semakin ia tak tahu kesalahannya.
Maka kemudian aku mulai berpikir,,,,
jangan biarkan emosi kita membutakan  keadaan
tetapi gunakan  hati dan perasaan untuk menuntunnya
karena terkadang perasaan yang kita bawa bukan lahir dari hati nurani kita tetapi terlahir dari rasa ego, atau emosi kita hari itu...
maka sababat,,,,
Gunakan kesabaranmu, gunakan perasaan dan logika jernihmu kemudian biarkan hati kita yang menuntunnya. Karena sejatinya pikiran yang tenang akan melahirkan hati yang tenang pula. Hati yang tenang akan mendamaikan perasaan & keadaaan.

Mungkin kita cukup membiarkan rasa kecewa itu tersimpan dihati kita lalu biarkan terhapus perlahan-lahan bersama waktu, meskipun sulit tapi bertahanlah. Karena mendamaikan 2 saudara yang bertikai lebih Allah cintai. Karena Islam juga mengatur, memberikan batas maksimal seseorang tidak bertegur dengan saudaranya hanya sampai 3 hari.
Jangan biarkan sebuah kata "kecewa" yang akhirnya menjauhkan kita dari bau syurga. Na'udzubillah...
Lahirkan cinta, lahirkan kata maaf untuk memaafkan dan terakhir lahir tombol delete untuk menghapus bekas luka kecewa dihati kita.....
Semoga dari hal sederhana ini, ketika terus menerus kita biasakan, akan melahirkan sebuah simpul senyum yang tiada pernah pudar. aamiin
Seperti kata Ricis,, kita punya 1001 cara untuk bahagia. Kita pilih menyimpan kecewa atau memaaafkanya?

 

Tidak ada komentar: